UPDATE

OPINI
OPINI

Otak-Atik Peraturan, Liberalisme Tambah Takaran

Poin di sini menurut Nadia adalah karena kesehatan reproduksi itu mengikuti kebutuhan siklus kehidupan. Setiap siklus kehidupan, kebutuhan akan kesehatan reproduksi berbeda.  Banyak remaja yang sudah menikah di usia 15 tahun, mereka adalah sasaran di di Pasal 109 yang berisi pelayanan kontrasepsi bagi PUS [pasangan usia subur] dan kelompok usia subur yang beresiko. Jadi bukan untuk semua remaja.

Banyak Peraturan Nol Hasil

Pemerintah kita dalam menangani satu kasus selalu memunculkan banyak peraturan, sekaligus memunculkan banyak polemik. Apalagi jika bukan karena pasal karet, yang ambigu dan multitafsir. Terkait kesehatan reproduksi, pada tahun 2012, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi bermaksud  membuat terobosan dengan kampanye penggunaan kondom dan membagikannya ke sekolah-sekolah menengah atas, mengingat jumlah orang yang terinfeksi HIV di Indonesia saat itu  cukup besar yakni 1,8 juta jiwa.

Jika kali ini terjadi lagi sungguh tidak mengherankan, apalagi ditambahkan bahwa solusi ini untuk menurunkan angka Stunting, lebih tidak masuk akal lagi. Yang tampak justru pengurusan negara yang setengah hati kepada rakyatnya. Namun apa hendak dikata kita memang ada dalam sistem kapitalisme demokrasi, yang tidak pernah bisa melahirkan pemimpin amanah meski mereka muslim.

Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi fokus dalam hal ini yaitu pernikahan, pergaulan dan kesejahteraan agar tak muncul stunting yang memang masih menjadi PR bagi negara, secara dampak, angkanya terus meroket. Kasus terus bermunculan.  Namun dengan sistem hari ini yang berbasis sekular atau memisahkan agama dari kehidupan adalah hal yang mustah bisa selesai secara tuntas. Yang ada malah timbul masalah baru yang semakin merusak.

Kontrasepsi Untuk Anak Sekolah dan Remaja Perkuat Liberalisasi Perilaku

Liberalisasi perilaku kian kuat dikampanyekan oleh pemerintah, setiap bagiannya jika tidak beradu argumen seringkali menghindar dari tuduhan masyarakat.

Padahal, kewajiban menyediakan layanan kesehatan reproduksi salah satunya dengan menyediakan kontrasepsi untuk anak sekolah dan remaja atas nama seks aman akan mengantarkan pada liberalisasi perilaku. Membebaskan tanpa hambatan yang akan membawa kerusakan pada masyarakat. Meski diklaim aman dari persoalan kesehatan, namun akan menghantarkan kepada perzinahan yang hukumnya haram.

Aturan ini meneguhkan Indonesia sebagai negara sekuler yang mengabaikan aturan agama. Kerusakan perilaku akan makin marak dan membahayakan masyarakat dan peradaban manusia, terlebih negara juga menerapkan sistem pendidikan sekuler, yang menjadikan kepuasan jasmani sebagai tujuan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
Tidak dapat memuat data story terbaru.
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.