UJIAN Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) sudah berlangsung. Tahap kedua penerimaan mahasiswa baru setelah sebelumnya Seleksi Nasional Berbasis Prestasi ( SNBP) tak kalah mendebarkan prosesnya. Banyak aturan yang harus dijalankan peserta agar proses berjalan fair dan adil.
Yang lebih mendebarkan karena SNBT ini lebih ketat lagi kuota penerimaannya. Tahun ini, Seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ini diikuti oleh 860.976 peserta yang memperebutkan sebanyak 259.564 kursi PTN. Tak salah jika semua orang ingin masuk di PT favoritnya, namun keterbatasan kuota ini yang seringkali membuka celah kecurangan.
Ditambah adanya pemahaman fakultas favorit (biasanya PTN) mampu meluluskan output favorit yang “terjamin” pasar kerjanya, profesi menjanjikan sehingga masa depan pasti cemerlang. Bisa jadi semboyan mereka yang ” terpaksa” menempuh cara curang karena takut gagal dan uang bisa menyelesaikan persoalannya adalah ” Curang cara ninjaku untuk sukses’. Sehingga mereka berlomba dengan banyak cara agar mencapai kesuksesan.
Akhirnya mudah ditebak, Ombdusman sudah mendapat laporan adanya kecurangan dalam pelaksanaannya. Pelaku kecurangan mulai dari mahasiswa aktif dengan cara menjadi joki hingga lembaga bimbel. Koordinator Pokja Penjaminan Mutu UM PTKIN Zulfahmi Alwi mengatakan praktik joki banyak temukan dengan cara-cara yang sangat canggih. Mulai dari kacamata, kuku, anting, sepatu bahkan ada yang melalui behel.
Beberapa modus kecurangan lainnya, ada mikrofon dan pengeras suara di alat bantu dengar, hingga penggunaan perangkat lunak melalui aplikasi rekaman layar. Selain itu, ada yang menggunakan aplikasi remote desktop disertai dengan pemasangan proxy pada komputer, sehingga komputer tersebut dapat terhubung dengan jaringan di luar.
Alhasil, baru enam hari pelaksanaan panitia seleksi melaporkan ada sekitar 50 orang pelaku kecurangan dan 10 joki dalam pelaksanaan UTBK 2025. Ini yang bisa diungkap, namun sebagaimana berbagai kasus di negeri ini seringnya memunculkan fenomena gunung es, artinya, di luar data yang sudah diungkap sebenarnya masih lebih banyak yang tidak terungkap.
Menanggapi fenomena ini, Kementerian Agama sudah memberlakukan pengamanan berlapis untuk mencegah segala bentuk kecurangan saat penyelenggaraan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM PTKIN), seperti joki hingga penggunaan alat-alat canggih.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun turut bersuara, mengatakan bahwa kecurangan selama UTBK-SNBT 2025 merupakan tindakan koruptif. Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo mengatakan, “Ini yang namanya koruptif. Kecurangan untuk melihat soal-soal sehingga bisa dibaca oleh orang lain.”
Kapitalisme: Tidak Meratanya Pendidikan Sebuah Keniscayaan
Sungguh miris! Tujuan dari pendidikan adalah mencetak generasi berkualitas, beriman dan bertakwa. Bagaimana bisa terwujud jika diawali dengan berbagai kecurangan? Tidak salah juga jika kita melihat bagaimana pejabat kita, korupsi menjadi budaya, lisan tanpa adab terus disuarakan kepada rakyat hingga kebijakan amburadul yang hanya berpijak pada ” Asal Bapak Senang” , mereka pun hasil dari pendidikan hari ini.
































































































Komentar Terbaru