Pelantikan ini dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, yang mengatur bahwa pelantikan Gubernur Aceh digelar dalam rapat paripurna istimewa DPRA dan tidak serentak dengan provinsi lain.
Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, dikenal sebagai tokoh penting di Aceh.
Julukan “Mualem” diberikan kepada individu yang memiliki keahlian tinggi dalam dunia militer.
Ia pernah menjabat sebagai Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka (GAM)..
Setelah Muzakir lulus SMA pada 1984, ia pernah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala sebelum bergabung menjadi bagian dari GAM.
Pada tahun 1986, Mualem berangkat ke Libya untuk ia menerima pelatihan tempur bersama anggota GAM lainnya.
Muzakir Manaf menjadi Panglima Perang GAM, setelah Abdullah Syafi’i meninggal pada tanggal 22 Februari 2002 dalam pertempuran dengan Tentara Nasional Indonesia.
Setelah Kesepakatan Helsinki, GAM membubarkan Tentara Negara Aceh pada tanggal 27 Desember 2005 dan Muzakir tidak lagi menjadi panglima.
Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia sejak Operasi Seroja (1975), dan pemerintah mengumumkan terjadinya kemajuan yang berarti, dengan ribuan anggota GAM terbunuh, tertangkap, atau menyerahkan diri.
Operasi ini berakibat lumpuhnya sebagian besar militer GAM, dan bersama dengan gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 menyebabkan berakhirnya konflik 30 tahun di Aceh.
Kemudian, pada tanggal 28 Desember 2005, Muzakir Manaf menjabat sebagai ketua Komite Peralihan Aceh.
Muzakir menjadi salah satu pendiri Partai Gerakan Aceh Mandiri dan berganti nama menjadi Partai Aceh karena keluhan dari pemerintah pusat sekaligus ketua umum pertama.

































































































Komentar Terbaru