Tapi semua itu seperti dilupakan demi narasi sesaat yang menyelamatkan reputasi sementara.
Sayangnya, reputasi tidak dibangun dengan tudingan. Ia dibangun dengan tindakan.
KDM seharusnya belajar dari sejarah: publik tak akan ingat seberapa sering seorang pemimpin tampil di media, tapi mereka tak akan lupa bagaimana rasanya ditinggal saat kesulitan.
Jika Gubernur hanya bisa mengeluh, menyindir, dan menuding, tanpa membenahi sistem birokrasi atau memperbaiki tata kelola pembangunan, maka jabatan itu kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah omon-omon kekuasaan.
Dan masyarakat, pada akhirnya, tidak butuh pemimpin yang pandai menyalahkan. Mereka butuh pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah.
(Penulis adalah wartawan/Wakil Sekretaris Kahmi Jaya)































































































Beri Komentar