Hadiah dijadwalkan akan diserahkan langsung oleh Menteri Politik, Hukum, dan HAM saat itu, Sudomo, di Jakarta.
Namun berbeda dari cerita banyak pemenang lotre yang terlena dalam kemewahan sesaat, Sayat justru berpikir panjang. Ia tidak menghambur-hamburkan uangnya.
“Saya mau taruh setengahnya di deposito, sisanya buat beli rumah, dan jadi modal hidup anak-anak,” ungkapnya. Ia juga memastikan tidak akan ikut undian SDSB lagi. “Buat apa? Saya sudah cukup. Sekarang saya ingin lebih banyak ibadah dan bangun masjid.”
Antara Harapan dan Perjudian
Meskipun legal dan dikelola oleh pemerintah, program SDSB sejak awal menuai kontroversi. Banyak tokoh agama dan masyarakat menilai SDSB tak ubahnya praktik perjudian terselubung. Namun karena saat itu kupon dijual secara sah oleh pemerintah lewat Kementerian Sosial, masyarakat tetap membelinya dengan rasa percaya.
Sayat adalah satu dari segelintir orang yang benar-benar menang. Tapi kisahnya tak bisa dijadikan teladan, karena keberhasilan semacam itu lebih didasarkan pada keberuntungan, bukan usaha.
Akhirnya, setelah gelombang protes dari berbagai kalangan, pemerintah resmi menghentikan program SDSB pada tahun 1993. Keputusan itu menandai akhir dari satu bab kontroversial dalam sejarah kebijakan sosial Indonesia.




































































































Beri Komentar