Menurutnya, ekonomi pangkal adalah ekonomi yang menjamin kebutuhan dasar rakyat: pangan dan energi. Inilah sektor yang harus menjadi pondasi ekonomi nasional. Sementara itu, ekspor komoditas, terutama bahan mentah, adalah ekonomi ujung. Artinya, itu hanya bisa dilakukan setelah kebutuhan dasar rakyat terpenuhi dan memiliki surplus produksi.
Kita selama ini justru melakukan sebaliknya. Kita ekspor bahan mentah–nikel, batu bara dan sawit. Sementara kebutuhan pangan pokok seperti beras, kedelai, gula, dan daging justru kita impor. Kita menjual apa yang tidak kita butuhkan, dan membeli apa yang semestinya bisa kita produksi sendiri.
Untuk membalikkan keadaan, diperlukan strategi perdagangan yang cerdas dan berpihak. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah substitusi impor yang diarahkan dengan jelas. Artinya, jika saat ini kita masih harus mengimpor, maka sebaiknya yang diimpor bukanlah barang jadi, melainkan barang modal yang bisa memperkuat basis produksi domestik.
Contohnya sederhana. Daripada terus-menerus mengimpor makanan kaleng, lebih baik kita mengimpor mesin pengalengannya. Negara dapat memberikan subsidi fiskal untuk pengadaan alat-alat tersebut, memberikan insentif pajak, hingga meringankan beban logistik. Dengan cara ini, dalam jangka menengah kita bisa memproduksi sendiri kebutuhan pangan olahan, bahkan mungkin mengekspornya kembali dengan nilai tambah yang lebih besar.
Pendekatan semacam ini bukan hanya akan mengurangi ketergantungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mengembangkan industri rumah tangga, dan menstabilkan harga di dalam negeri, karena tidak terpengaruh fluktuasi pasar global.
Pembangunan ekonomi yang sejati adalah pembangunan yang dimulai dari bawah. Dari desa, dari keluarga petani, dari industri kecil, dari koperasi genuine milik rakyat. Bukan dari korporasi besar yang mudah keluar masuk, dan bukan dari investasi asing yang datang bersama ketentuan dan kepentingan mereka sendiri.
Dalam konteks ini, pembangunan sektor pangan dan energi menjadi titik krusial. Ketika rakyat memiliki akses dan kontrol atas pangan dan energi, maka kemandirian nasional akan terbentuk secara alami. Ketika rakyat memproduksi, bukan hanya mengonsumsi, maka struktur ekonomi akan lebih berkeadilan.
Butuh Kepemimpinan Ideologis
Namun semua ini hanya mungkin terjadi jika ada kepemimpinan yang berpihak secara ideologis pada rakyat. Pemimpin yang tidak menjadikan rakyatnya sebagai pasar, tetapi sebagai produsen. Bukan pemimpin yang membanggakan murahnya upah buruh untuk menarik investor, tapi pemimpin yang menjadikan martabat rakyat sebagai dasar pembangunan.



































































































Beri Komentar