Pada akhirnya, perspektif Islam terhadap mata uang BRICS bersifat kritis sekaligus konstruktif. Islam tidak menolak inovasi moneter, asalkan selaras dengan prinsip syariah dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Tantangan terbesar bukan hanya pada penciptaan instrumen baru, tetapi pada bagaimana menjaganya agar tetap beretika, bebas riba, dan berpihak kepada keadilan sosial. Bila prinsip-prinsip tersebut dipegang teguh, maka mata uang BRICS bukan sekadar proyek ekonomi global, melainkan peluang bagi dunia Islam untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai syariah mampu berperan dalam mewujudkan tatanan ekonomi internasional yang lebih berkeadilan.
**). Penulis adalah Mahasiswa Program Akuntansi Syariah, Universitas Tazkia






























































































Beri Komentar