Bencana Sumatera
Pengakuan Jenderal Maruli juga membuka fakta lain di lapangan, beberapa jembatan bailey sempat mengalami gangguan, termasuk dugaan sabotase berupa baut yang dicopot oleh pihak tidak dikenal.
Kondisi itu menambah tekanan bagi TNI AD yang sudah bekerja di tengah keterbatasan dana dan medan sulit.
Meski begitu, TNI AD tetap melanjutkan pembangunan karena situasi Aceh menuntut percepatan.
Ribuan warga bergantung pada akses yang terputus, dan jalur bantuan tak boleh berhenti.
Pembuatan jembatan darurat adalah langkah strategis agar stabilisasi pascabencana bisa berlangsung cepat.
Pernyataan “jaminannya tentara” mungkin disampaikan dengan nada bercanda, tetapi fakta bahwa TNI harus menalangi biaya pembangunan tetap menjadi sorotan besar.
Isu tersebut kini mendorong perbaikan tata kelola anggaran bencana agar lebih responsif, lebih fleksibel, dan tak menghambat gerak cepat di lapangan.
Namun cerita di baliknya tentang utang, ketegangan birokrasi, dan dedikasi prajurit menjadi bab baru yang memantik perhatian publik.***




































































































Beri Komentar