Selain itu, konflik di satu wilayah bisa membuka peluang konflik lain di tempat berbeda.
Misalnya, China berpotensi memanfaatkan situasi untuk meningkatkan tekanan ke Taiwan, atau Rusia memperluas konflik di Ukraina.
“Dalam Perang Dunia Pertama, kekuatan itu adalah kekaisaran Eropa. Dalam Perang Dunia Kedua, kekuatan mencakup di antaranya Amerika Serikat, Jepang, dan China,” katanya kepada BBC.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Joe Maiolo dari King’s College London.
Ia menilai kecil kemungkinan negara besar seperti China dan Rusia terlibat langsung dalam konflik ini.
Menurutnya, negara-negara besar justru cenderung memanfaatkan situasi tanpa harus masuk ke dalam perang terbuka.
“Gagasan bahwa sesuatu terjadi di dunia dan China akan menyerang Taiwan hanyalah… omong kosong belaka.”
“Tetapi jika kita berbicara tentang Perang Dunia, Perang Dunia Ketiga, saya rasa tidak ada kecenderungan bagi China atau Rusia untuk terlibat langsung sama sekali, dan terlebih lagi, tentu saja, Eropa.”
Peran para pemimpin
MacMillan mengatakan sejarah telah menunjukkan bahwa perang sering kali dipicu oleh kesombongan, rasa kehormatan, atau rasa takut terhadap lawan.
Ia menunjukkan bahwa sejarah juga menunjukkan bahwa para pemimpin individu dapat membentuk jalannya peristiwa.
“Perdana Menteri Prancis, Georges Clémenceau, dalam Perang Dunia Pertama mengatakan bahwa membuat perdamaian lebih sulit daripada membuat perang,” kata Macmilan.
Menurutnya, seringkali ada argumen bahwa jika ada kerugian besar atau pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang, para pemimpin memutuskan bahwa mereka harus “terus memenangkan perang”.
Macmilan mengatakan kesombongan dapat menjadi faktor bagi para pemimpin, termasuk Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin yang dia gunakan sebagai contoh.
“Dia jelas telah membuat kesalahan besar dengan mencoba menginvasi Ukraina,” ujar Macmilan.
“Segera setelah peluncuran invasi skala penuh empat tahun lalu, Putin mengatakan tujuannya adalah untuk “demiliterisasi dan denazifikasi” Ukraina, tapi Rusia mengatakan tujuan militernya di Ukraina belum tercapai, katanya.
Kementerian Pertahanan UK memperkirakan bahwa Rusia telah menderita 1,25 juta korban jiwa secara keseluruhan, yang dianggap sebagai perkiraan yang terlalu rendah, dan lebih tinggi daripada semua korban jiwa AS selama Perang Dunia Kedua.
MacMillan menambahkan, para pemimpin yang menolak untuk mengakui kegagalan atau mundur dapat memperpanjang dan memperdalam konflik.
Ia menambahkan bahwa di masa lalu, tokoh-tokoh seperti Adolf Hitler terus menggelorakan perang bahkan ketika kekalahan Jerman tak terhindarkan.































































































Beri Komentar