UPDATE

EROPAINTERNASIONAL

AS-Eropa Merinding, Rudal Setan II Rusia Mampu Lumat Mereka dalam Puluhan Menit

Masa Depan Perjanjian Senjata Nuklir

Di tengah memburuknya hubungan Rusia dan Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, kemunculan kembali rudal-rudal raksasa seperti Sarmat membuat dunia kembali diingatkan pada bayang-bayang perlombaan nuklir era Perang Dingin.

Situasi itu semakin mengkhawatirkan setelah melemahnya Perjanjian New START, yaitu kesepakatan pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington. Perjanjian yang mulai berlaku pada 2011 tersebut selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis, rudal balistik antarbenua, kapal selam nuklir, dan pembom strategis yang boleh dimiliki kedua negara.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres angkat suara terkait hal ini. “Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, dunia menghadapi situasi tanpa batasan mengikat terhadap arsenal nuklir strategis Rusia dan Amerika Serikat,” kata Guterres beberapa waktu lalu sebagaimana diberitakan media Barat.

Guterres menyebut berakhirnya New START sebagai “grave moment” atau “momen yang sangat serius” bagi perdamaian dan keamanan dunia. Ia memperingatkan bahwa runtuhnya sistem pengendalian senjata nuklir terjadi pada saat risiko penggunaan senjata nuklir berada pada titik tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Bukan hanya membatasi jumlah senjata, New START juga memiliki mekanisme inspeksi dan pertukaran data yang memungkinkan Rusia dan Amerika saling memantau kekuatan nuklir masing-masing. Sistem ini dianggap penting untuk mencegah salah perhitungan militer dan menjaga stabilitas strategis global.

Namun setelah perang Ukraina pecah, hubungan kedua negara memburuk tajam. Rusia kemudian menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut pada 2023, termasuk menghentikan mekanisme inspeksi dan pertukaran data dengan Amerika Serikat. Meski New START secara formal masih berlaku hingga Februari 2026, banyak analis menilai sistem pengendalian senjata nuklir dunia kini praktis mulai melemah.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru bahwa dunia sedang bergerak menuju fase perlombaan senjata strategis berikutnya. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, negara-negara besar dikhawatirkan akan kembali berlomba mengembangkan rudal, hulu ledak nuklir, dan teknologi militer strategis baru seperti yang pernah terjadi pada puncak Perang Dingin abad ke-20.

image_print

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.