BANDA ACEH — Paris Saint-Germain (PSG) mempertahankan gelar Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal 4-3 melalui adu penalti pada final yang berakhir imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu di Puskás Aréna, Sabtu (30/5).
Kemenangan itu mengukuhkan PSG sebagai tim pertama sejak Real Madrid yang mampu mempertahankan trofi di era modern Liga Champions.
Namun, pesta kemenangan klub asal Prancis tersebut turut diwarnai komentar tajam dari gelandang muda João Neves yang menilai hanya PSG yang benar-benar berupaya memainkan sepak bola sepanjang pertandingan.
Advertisements
Arsenal membuka keunggulan lebih dahulu melalui Kai Havertz pada menit keenam dan sempat menjaga keunggulan itu hingga turun minum.
PSG kemudian meningkatkan tekanan pada babak kedua dan menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele setelah pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di kotak terlarang.
Skor 1-1 bertahan hingga babak tambahan usai dan pertandingan ditentukan lewat adu penalti.
Di babak penentuan, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes gagal menjalankan tugas untuk Arsenal. Sementara di kubu PSG, hanya Nuno Mendes yang gagal mencetak gol dari titik putih. Tendangan Gabriel yang melambung memastikan kemenangan PSG sekaligus mempertahankan mahkota Eropa mereka.
Usai pertandingan, Neves menyampaikan emosinya setelah meraih gelar Liga Champions kedua secara beruntun bersama PSG.
“Saya sangat emosional. Ini kedua kalinya saya menjadi juara Eropa. Bukan kemenangan itu sendiri yang membuat saya bahagia, tetapi karena saya bermain bersama rekan setim, staf, dan manajemen yang luar biasa,” kata Neves kepada media penyiar tuan rumah, dikutip Minggu (31/5).
Pemain asal Portugal itu kemudian melontarkan komentar yang langsung menjadi sorotan.
“Kami pantas menang hari ini karena PSG adalah satu-satunya tim yang benar-benar ingin bermain,” ujar Neves.
Pernyataan tersebut dipandang sebagai kritik terhadap pendekatan taktik Arsenal yang lebih mengandalkan disiplin bertahan dan transisi cepat sepanjang pertandingan.
Neves juga menilai mempertahankan gelar merupakan tantangan yang lebih berat dibanding meraihnya untuk pertama kali.
“Musim ini berbeda. Lebih sulit dan lebih menguras tenaga karena kami datang sebagai juara bertahan. Ada kelelahan, tetapi ketika bermain di final, Anda harus melupakan semuanya dan memberikan segalanya,” katanya.
Pelatih PSG Luis Enrique menilai timnya layak menjadi juara, tetapi tetap memberikan apresiasi kepada Arsenal atas perlawanan yang mereka tampilkan.
“Kami pantas mendapatkannya. Pertandingan berjalan sangat sulit dan sangat ketat,” kata Enrique. “Selamat untuk Arsenal. Mereka bermain sangat baik dan mencoba membawa pertandingan ke area yang menjadi kekuatan mereka.”






























































































Beri Komentar