Ia mengungkapkan, progres program optimalisasi lahan terdampak bencana saat ini telah mencapai 32 persen. Program tersebut mencakup pekerjaan konstruksi optimalisasi lahan di 18 kabupaten/kota di Aceh.
“Kami berterima kasih kepada Menteri Pertanian dan seluruh jajaran Kementerian Pertanian yang bergerak cepat membantu petani kita. Pemulihan ini menjadi prioritas utama agar roda perekonomian masyarakat kembali normal,” katanya.
M. Nasir menjelaskan, program pemulihan dilakukan melalui beberapa tahapan sesuai tingkat kerusakan lahan. Untuk lahan dengan kategori rusak ringan dilakukan optimalisasi melalui pemberian bantuan pekerjaan. Sementara lahan dengan tingkat kerusakan sedang dipulihkan melalui program rehabilitasi.
Setelah seluruh pekerjaan konstruksi selesai, tahapan berikutnya adalah pengolahan lahan agar sawah dapat kembali dimanfaatkan untuk musim tanam.
Selain pemulihan lahan pertanian, intervensi Pemerintah Aceh bersama Kementerian Pertanian juga mencakup pembangunan dan perbaikan infrastruktur pendukung, seperti irigasi pompa, irigasi perpipaan, bangunan konservasi, jaringan irigasi tersier, hingga rehabilitasi Jalan Usaha Tani (JUT). Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil pertanian sekaligus mendukung produktivitas petani.
M. Nasir optimistis kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten, TNI, serta masyarakat mampu mempercepat pemulihan puluhan ribu hektare lahan yang terdampak banjir sehingga kembali produktif dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan petani di Aceh. []






























































































Beri Komentar