“Lahan gambut ini memiliki karakteristik tersendiri. Api bisa terlihat sudah padam di permukaan, tetapi bara masih dapat bertahan di bawah tanah. Karena itu, kita tetap melakukan penyekatan, penyisiran, dan pendinginan pada titik-titik yang masih berasap,” jelasnya.
Dalam penanganan karhutla tersebut, sinergi antara TNI, BPBD, kepolisian, petugas terkait, dan unsur lainnya menjadi bagian penting dalam mempercepat pengendalian kebakaran. Setiap personel bergerak sesuai tugas dan kondisi di lapangan untuk memastikan titik-titik yang masih berasap segera ditangani.
Selain pemadaman, petugas terus memantau kondisi lahan untuk memastikan api tidak merambat ke kawasan lain serta mendeteksi kemungkinan munculnya kembali titik panas setelah proses pendinginan.
Andrino mengapresiasi seluruh personel gabungan yang selama tujuh hari tetap bertahan di lapangan. Menurutnya, kondisi medan dan karakteristik lahan yang terbakar membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kerja sama seluruh unsur.
“Kita berharap hujan segera turun dan membantu proses pemadaman. Namun, kita tidak boleh lengah. Penanganan dan pemantauan tetap dilakukan sampai kondisi benar-benar aman,” tegasnya.
Ia berharap sinergi seluruh unsur dan dukungan kondisi cuaca dapat mempercepat proses pemadaman sehingga karhutla di Desa Ujung Mangki segera terkendali dan tidak meluas ke kawasan lain.
Kerja keras personel gabungan juga mendapat apresiasi dari masyarakat setempat. Kehadiran petugas di lapangan dinilai memberikan rasa aman sekaligus menunjukkan keseriusan dalam mencegah kebakaran meluas.
Iskandar (50), warga setempat, mengapresiasi upaya personel gabungan yang terus melakukan penanganan meskipun menghadapi kondisi lahan yang cukup sulit.
“Kami melihat langsung petugas terus bekerja di lapangan. Walaupun api sudah banyak yang padam, mereka tetap mencari titik-titik yang masih berasap. Kami masyarakat tentu sangat terbantu dan berharap kebakaran ini segera benar-benar padam,” ujar Iskandar.
Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kawasan sekitar agar kebakaran tidak kembali terjadi, terutama saat musim kemarau ketika kondisi lahan lebih mudah terbakar.
“Kami berharap semua pihak sama-sama menjaga lingkungan. Jangan ada yang membakar lahan sembarangan karena kalau sudah terbakar seperti ini, penanganannya sangat sulit dan membutuhkan waktu,” katanya.
Dengan penyisiran, penyekatan, pemadaman, dan pendinginan yang terus dilakukan, personel gabungan berkomitmen mengendalikan seluruh titik karhutla di Desa Ujung Mangki. Penanganan dan pemantauan akan terus dilakukan hingga tidak ditemukan lagi bara maupun asap yang berpotensi memicu kebakaran kembali.[]



































































































Beri Komentar