Menurutnya, batas aman muka air tanah gambut sekitar 40 sentimeter, sedangkan di Kalteng saat ini telah mencapai sekitar 120 sentimeter.
“Untuk kebakaran skala besar ini tidak bisa hanya water bombing, tidak bisa hanya satgas darat,” tegasnya.
9.440 Hektare Lebih Lahan Terbakar
Berdasarkan data Polda Kalteng per 10 September 2026, tercatat 109.158 hotspot, 2.909 firespot, dan 9.440,36 hektare lahan terbakar.
Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni 2.505 hektare, disusul Pulang Pisau 1.264 hektare dan Kotawaringin Barat 1.104 hektare. Tiga wilayah tersebut menyumbang sekitar 51,6 persen dari total luasan lahan terbakar.
Dari sisi firespot, Palangka Raya menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 592 titik, disusul Kotawaringin Timur sebanyak 566 titik.
Untuk memperkuat penanganan, Polda Kalteng telah membangun 220 sumur bor dan 104 embung air, serta membuat sekat kanal dan akses jalan menuju lokasi kebakaran.
Wakapolri menegaskan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama seluruh pihak.
“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama. Ada pemerintah daerah, ada Korem, kemudian ada Polda dengan jajarannya, kemudian teman-teman Manggala Agni yang bekerja sangat luar biasa,” ujarnya.
“Kehadiran langsung pimpinan Polri, pengerahan personel, serta dukungan sarana dan teknologi ini merupakan bagian dari upaya memastikan masyarakat terlindungi dan karhutla dapat segera ditangani,” pungkasnya.[]




































































































Beri Komentar