Karena itu, KSMI Aceh akan membangun komunikasi dan kolaborasi dengan klub, komunitas, sekolah sepakbola, pemerintah daerah, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan olahraga.
“Kita mulai dari Aceh. Organisasinya harus kuat, kompetisinya harus hidup, dan pembinaannya harus berjalan. Dari situ kita berharap lahir pemain-pemain yang mampu bersaing dan membawa nama Aceh ke tingkat nasional,” katanya.
Muktarrudin menegaskan, setiap komisi dan perangkat organisasi nantinya harus memiliki fungsi nyata. Komisi Kompetisi diarahkan untuk menopang sistem pertandingan, bidang teknik dan pengembangan memperkuat kualitas permainan, sementara pembinaan usia muda menjadi bagian penting dalam menyiapkan regenerasi.
Demikian pula bidang pemain dan klub, wasit, sepakbola mini wanita, medis, keamanan, serta media dan teknologi. Seluruh unsur tersebut diharapkan bekerja secara terintegrasi sehingga KSMI Aceh tidak hanya aktif ketika turnamen digelar.
“Kita tidak ingin organisasi ini hanya bergerak saat ada pertandingan. Yang kita bangun adalah ekosistemnya. Ada pembinaan, ada kompetisi, ada organisasi, dan ada jalur bagi pemain untuk berkembang,” ujarnya.
Setelah penyerahan SK, KSMI Aceh akan melakukan konsolidasi internal sekaligus melengkapi perangkat kepengurusan. Program kerja juga akan disusun dengan memperhatikan kebutuhan pembinaan serta perkembangan sepakbola mini di Aceh.
Muktarrudin berharap KSMI Aceh dapat menjadi rumah bersama bagi pemain, klub, dan komunitas sepakbola mini, sekaligus menjadi jembatan bagi talenta Aceh menuju kompetisi yang lebih luas.
“Harapan kita sederhana, KSMI Aceh berkembang, sepakbola mini semakin kuat, dan anak-anak Aceh mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menunjukkan kemampuan mereka sampai ke kancah nasional,” pungkasnya.[]






























































































Beri Komentar