UPDATE

NASIONAL
NASIONAL

Cuitan Fufufafa “Saya Tidak Tamat SD” Viral Lagi, Publik Kaitkan dengan Polemik Ijazah Gibran

BANDA ACEH – Cuitan lama akun Kaskus bernama Fufufafa kembali ramai dibahas. Dalam unggahan 24 Juni 2014, akun itu menulis singkat: “Saya tidak tamat SD.” Kalimat itu diangkat kembali oleh sejumlah pegiat media sosial, termasuk Dokter Tifa, tepat di tengah polemik riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.Banyak pihak yang sejak 2024 menduga akun Fufufafa milik Gibran. Dugaan itu didasarkan pada kemiripan gaya, jejak digital, dan kaitan dengan akun-akun lain yang pernah dikaitkan dengan putra sulung Jokowi. Gibran sendiri pernah merespons dengan singkat: tanyakan saja kepada pemilik akunnya. Pemerintah pun pernah menyatakan akun itu bukan milik Gibran, meski identitas pemiliknya hingga kini belum diungkap secara resmi dan terbuka.

Yang membuat cuitan 2014 itu menjadi senjata baru adalah konteksnya. Riwayat resmi Gibran mencantumkan SD Negeri Mangkubumen Kidul 16 Solo (1993–1999) lalu SMP Negeri 1 Surakarta (1999–2002). Netizen kemudian mempertanyakan syarat masuk SMPN 1 Surakarta pada era itu, yang disebut membutuhkan NEM tertentu. Pertanyaannya sederhana: jika akun yang diduga miliknya mengaku tidak tamat SD, bagaimana ia masuk sekolah unggulan tersebut?

Polemik ijazah Gibran sendiri sudah berjalan berlapis. Selain jenjang SMP, yang paling sering dipersoalkan adalah penyetaraan SMA dari Orchid Park Secondary School di Singapura dan program Insearch UTS Sydney yang kemudian disetarakan. Ada perbedaan data antara KPU, Setneg, dan pemberitaan resmi. Gugatan dan somasi terkait syarat pendidikan cawapres pun sempat masuk ke pengadilan dan Mahkamah Konstitusi.

Cuitan “tidak tamat SD” itu sendiri belum tentu pengakuan literal. Bisa jadi guyonan, sarkasme, atau unggahan iseng di forum anonim lebih dari satu dekade lalu. Namun di ruang publik yang sudah panas karena isu ijazah, kalimat itu langsung dibaca sebagai “pengakuan”. Roy Suryo bahkan sempat menyatakan keyakinannya hampir 100 persen bahwa Fufufafa adalah Gibran dan menjanjikan pembahasan lengkap dalam “Gibran’s Black Paper”.

Yang terjadi sekarang bukan lagi soal satu cuitan lama. Ini menjadi simbol keraguan yang lebih luas: apakah dokumen pendidikan yang dipakai untuk syarat pencalonan benar-benar utuh dan dapat diverifikasi publik? Selama identitas Fufufafa tidak diklarifikasi tuntas dan dokumen pendidikan Gibran tidak dibuka secara transparan, spekulasi seperti ini akan terus muncul.

Intinya, cuitan 2014 itu bukan bukti hukum. Tapi di tengah polemik ijazah yang belum selesai, ia cukup untuk membuat publik bertanya lagi: mana yang harus dipercaya—catatan resmi atau jejak digital yang terus digali?

image_print
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.