BANDA ACEH — Diah Indriyanti (36 tahun) menuntut pengusutan tuntas kematian putranya, Muhammad Hasbi Al Aqib (7 tahun). Siswa kelas 2 di SDN 1 Kebondalem di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, itu diduga meninggal akibat dirundung dan dianiaya kakak kelasnya.Diah mengungkapkan, sebelum meninggal, Aqib sempat menunjukkan sikap ketakutan. Pada Jumat (11/9/2026), Aqib meminta kepada ibunya agar tidak terlalu lama menjemputnya di sekolah. Diah menduga, saat itu putranya sudah menerima pengancaman.
“Aqib bilang, ‘Mama, nanti jemputnya jangan lama. Aqib takut mau dipukulin’,” ungkap Diah menyitir permintaan putaranya kepadanya kala itu, Senin (5/10/2026).
Pada Senin (14/9/2026), Aqib meminta uang saku lebih kepada Diah. Saat itu Aqib beralasan hendak membelikan teman-temannya jajan. Diah, yang belum memiliki kecurigaan, menuruti permintaan putranya.
Diah mengungkapkan, pada hari itu, Aqib menceritakan bahwa dia dipukuli. “Pas cerita itu bilangnya dipukuli di aula,” ujarnya.
Dia menambahkan pada malam keesokan harinya, Aqib mulai mengeluhkan rasa sakit di bagian perut dan belakang tubuhnya. Diah akhirnya memutuskan memeriksakan putranya ke dokter pada keesokan paginya.
Dari pemeriksaan tersebut, teridentifikasi bahwa Aqib turut mengalami memar di bagian lututnya. Dokter menyampaikan kepada Diah bahwa luka tersebut akibat semacam pukulan. Pada momen tersebut, Aqib pun menceritakan apa yang dialaminya kepada dokter.
“Saya dan suami langsung drop. Terus langsung disuruh ke IGD,” ujar Diah.
Dia menerangkan, saat berada di rumah sakit, staf medis menyampaikan bahwa prosedur visum hanya bisa dilakukan dalam kurun 1×24 jam. “Pikiran saya waktu itu yang penting anak saya sehat kembali seperti semula. Akhirnya dirawat di sana delapan atau sembilan hari,” ucapnya.
Diah mengungkapkan, setelah dirawat hampir 10 hari, Aqib akhirnya diperbolehkan pulang. Namun kondisi Aqib tak banyak berubah. “Kalau digendong untuk dibangunin itu mengeluh sakit. Terus muntah-muntah,” katanya.
Pada 30 September 2026, hendak dibawa lagi ke rumah sakit setelah tiga hari di rumah pasca-perawatan pertama, Aqib justru meninggal dunia. Kendati demikian, Diah masih sempat mencoba membawa putranya kembali ke rumah sakit.
“Barangkali bisa dari Gusti Allah, saya bawa lagi ke rumah sakit dalam keadaan sudah seperti itu. Pihak rumah sakit bilang memang sudah tidak ada (meninggal),” ujarnya.
Karena curiga putranya menjadi korban perundungan dan penganiyaan, Diah melaporkan kasus tersebut ke Polres Pemalang. Kepolisian kemudian menyarankan agar jenazah Aqib langsung diautopsi.































































































Beri Komentar