UPDATE

NASIONAL

Indonesia Pangkas Ekspor Gas, Singapura: Dampaknya Tak Signifikan, Kurang dari 2%

Di sisi lain, Gas Supply, salah satu pemasok gas terbesar di Singapura yang sepenuhnya dimiliki Temasek, mengakui pengurangan sementara pasokan dari Indonesia berdampak pada penyaluran gas kepada pelanggan.

Perusahaan tersebut menyatakan telah menghubungi pelanggan yang terdampak dan berkoordinasi dengan pemasok hulu untuk menangani situasi tersebut.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengumumkan pemangkasan ekspor gas ke Singapura pada Jumat (23/10/2026) malam, di sela-sela Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto 2026 di Jakarta.

“Mulai besok (Sabtu 24/10/2026), kita kurangi ekspor gas ke Singapura. Dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatera 16 BBTUD,” ujar Djoko, dikutip dari Antara.

Djoko menjelaskan, kebijakan tersebut hanya memengaruhi Singapura karena jaringan pipa yang digunakan untuk menyalurkan gas terhubung langsung dengan negara tersebut.

“Nggak ada (negara lain). Pipanya kan ke Singapura aja,” kata dia.

Gas dari Sumatera disalurkan kepada Gas Supply. Sementara itu, gas dari kawasan Laut Natuna dikirim melalui pipa bawah laut menuju fasilitas penerimaan yang dioperasikan Sembcorp Gas.

Mengacu pada laporan tahunan Sembcorp Industries 2023, perusahaan tersebut memiliki perjanjian jual-beli gas alam melalui pipa dari ladang gas West Natuna dengan nilai sekitar 1,9 miliar dollar AS.

Kedua perjanjian tersebut diperkirakan berlaku hingga 2028. The Straits Times telah menghubungi Sembcorp untuk meminta keterangan lebih lanjut.

Sebelumnya, Indonesia dan Singapura menyepakati perpanjangan pasokan gas pada 2022 hingga 2028, dengan volume yang lebih rendah dibandingkan kontrak sebelumnya.

Pemangkasan pasokan gas ke Singapura berlangsung di tengah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai kemungkinan menghentikan ekspor energi kepada negara yang dinilai tidak menghargai Indonesia.

Bahlil menyebut kebijakan tersebut dapat diterapkan kepada negara mana pun.

Meski demikian, Bahlil belum merinci kriteria negara yang dianggap tidak bersahabat atau tidak menghargai Indonesia sehingga dapat dikenai penghentian ekspor gas.

Ia menegaskan bahwa pemerintah telah memperhitungkan berbagai konsekuensi sebelum mengambil keputusan, termasuk potensi berkurangnya pendapatan dari ekspor apabila pengiriman energi ke luar negeri dihentikan.

“Pemerintah dalam membuat keputusan, setiap langkah sudah memikirkan semuanya. Yang jelas bahwa kita menghargai semua hubungan dengan siapa saja, tapi juga asas penghargaan harus sama juga,” ujar dia.

Bahlil juga menyatakan tidak mempermasalahkan kemungkinan negara yang kehilangan pasokan gas Indonesia membalas dengan menghentikan ekspor komoditas lain ke Indonesia.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.