UPDATE

DUNIA
INTERNASIONALTIMUR TENGAH

IRGC Ancam Balasan Mematikan: AS Bantah Terlibat dalam Serangan Kilang Minyak Iran

TEHERAN/WASHINGTON – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengancam stabilitas pasar energi global.

Juru Bicara Sayap Kanan Garda Revolusi Iran (IRGC), Ebrahim Zholfigari, melontarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat dan Israel menyusul serangan yang menghantam kilang minyak utama Iran baru-baru ini.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Zholfigari menegaskan bahwa Teheran sedang menyiapkan serangan balasan dengan metode baru yang diklaim akan memaksa kedua negara tersebut berpikir ulang sebelum memicu perang besar-besaran dengan Iran.

“Kami akan memberikan respons yang membuat mereka mempertimbangkan kembali setiap langkah militer di masa depan,” tegasnya, sebagaimana dikutip dari laporan The Miles Post.

Gedung Putih Bantah Keterlibatan

Merespons situasi yang kian memanas, Pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Energi, Chris Wright, menegaskan bahwa Washington tidak memiliki rencana untuk menargetkan sektor energi Iran.

Pernyataan ini dikeluarkan di tengah kekhawatiran global akan lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan dari Teluk Persia.

Menteri Wright menyatakan bahwa AS secara aktif menghindari serangan langsung terhadap infrastruktur energi Iran guna menjaga stabilitas ekonomi global.

Namun, dalam pernyataan yang bernada sindiran, Wright mengisyaratkan bahwa serangan terhadap kilang minyak Iran tersebut kemungkinan besar merupakan aksi sepihak dari pihak lain, yang oleh para pengamat diartikan sebagai tuduhan tersirat terhadap Israel.

Dampak pada Keamanan Regional

Ancaman dari IRGC ini menandakan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap sabotase ekonomi mereka.

Di sisi lain, sikap AS yang menjaga jarak dari target-target energi menunjukkan adanya keretakan koordinasi atau setidaknya perbedaan strategi antara Washington dan Tel Aviv dalam menghadapi Teheran.

Dunia kini menantikan langkah apa yang akan diambil Iran dalam “serangan balasan baru” tersebut, sementara pasar energi internasional terus berfluktuasi menunggu kepastian keamanan di jalur-jalur minyak strategis.

image_print

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.