BANDA ACEH -Sikap bungkam Bahlil Lahadalia atas pengunduran diri Nusron Wahid di kepengurusan Golkar membuka sejumlah tafsir di internal partai berlambang pohon beringin tersebut.
“Mundurnya Nusron Wahid yang tidak dikonfirmasi Bahlil selaku Ketua Umum Golkar kecil kemungkinan sebagai sikap melindungi Nusron terkait perkara korupsi di Kementerian ATR/BPN,” ujar Pengamat Politik Citra Institute, Efriza kepada Kantor Berita Ekonomi dan Politik RMOL, Minggu, 20 September 2026.
Menurut Efriza, hal yang justru menarik adalah waktu munculnya informasi mengenai pengunduran diri Nusron. Informasi tersebut mencuat setelah kasus dugaan korupsi di Kementerian ATR/BPN mencuat ke publik.
“Informasi ini dimunculkan menunjukkan kemungkinan adanya persoalan komunikasi dan transparansi di internal Partai Golkar, bahkan belum jelasnya alasan mundur Nusron sekaligus informasi ia mundur dari kepengurusan yang ‘ditutupi’ dapat menyembulkan sejumlah persepsi,” tuturnya.
Efriza menilai, situasi tersebut juga membuka kemungkinan adanya upaya Bahlil menjaga legitimasi kepemimpinannya di Partai Golkar.
“Ada apa dengan Partai Golkar? Apakah mundurnya Nusron berhubungan dengan koreksi atas kepemimpinan Bahlil, dan persepsi liar lainnya?” demikian Efriza.
Nusron sebelumnya tercatat sebagai Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian DPP Partai Golkar. Namun setelah namanya terseret dalam pusaran rasuah di lingkungan Kementerian ATR/BPN, barulah terungkap pengunduran diri Nusron sebagai pengurus Golkar yang sudah disodorkan ke Bahlil sejak enam bulan lalu.































































































Beri Komentar