UPDATE

DUNIA
INTERNASIONALPALESTINA

78 Tahun Nakba Palestina: Krisis Kemanusiaan dan Hilangnya Kepemimpinan

Oleh: Hanny N

SETIAP 15 Mei, jutaan warga Palestina di seluruh dunia memperingati Nakba, hari dimana tanah air mereka dirampas, rumah mereka dihancurkan, dan hidup mereka diubah menjadi pengungsian abadi. Tahun ini, 2026, menandai 78 tahun sejak entitas Zionis Yahudi didirikan di atas darah dan puing-puing tanah Palestina yang subur, dengan dukungan penuh Imperium Inggris.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Namun Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu. Ia adalah siklus kekerasan yang masih berputar hingga hari ini. Di Jalur Gaza, di Tepi Barat, dan di kamp-kamp pengungsian yang terus membesar, umat Muslim Palestina masih berjuang mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin Muslim dunia.

Mengapa selama 78 tahun penjajahan ini terus berlanjut? Dan mengapa solusi yang ditawarkan dunia justru semakin memperkuat rantai penindasan?

Fakta di Lapangan: Dukungan Internasional yang Kosong Makna

Baru-baru ini, para menteri luar negeri BRICS menyerukan komunitas internasional untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina. Mereka mengakui Jalur Gaza sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina, mendesak gencatan senjata tanpa syarat, dan menuntut penarikan penuh pasukan Zionis Israel dari wilayah yang dijajah.

Seruan itu terdengar megah. Namun jika ditelusuri lebih dalam, dukungan internasional seperti ini telah berulang kali terdengar selama 78 tahun terakhir, tanpa efek nyata yang mengubah kondisi di lapangan. Resolusi PBB, seruan gencatan senjata, dan sanksi diplomatik hanyalah simbolisme kosong yang tidak pernah berhasil mengusir satu tentara penjajah pun dari tanah Palestina.

Palestina telah mengajukan keanggotaan penuh BRICS, mencari perlindungan dan pengakuan dari blok negara-negara yang dianggap alternatif dari hegemoni Barat.

Namun apakah BRICS benar-benar akan mengubah nasib Palestina? Ataukah ini sekadar diplomasi retorika yang sama seperti yang dilakukan PBB, Liga Arab, dan organisasi internasional lainnya selama tujuh dekade terakhir?

Analisis: Kegagalan Sistem dan Konsep Negara Bangsa yang Busuk

Tragedi Nakba bukan sekadar kegagalan militer atau diplomasi. Ia adalah potret kegagalan sistem yang sedang tegak dalam menciptakan kerahmatan di dunia. Sistem internasional yang dibangun di atas fondasi negara bangsa (nation-state) dan sekularisme telah membuktikan ketidakmampuannya melindungi umat Muslim Palestina dari penjajahan.

Konsep negara bangsa yang memecah umat Islam menjadi entitas-entitas kecil yang saling terpisah, dengan batas-batas buatan penjajah, telah membuat umat ini kehilangan powernya. Umat Muslim yang berjumlah lebih dari satu setengah miliar jiwa terpecah menjadi 50-an negara dengan kepentingan masing-masing, sehingga tidak pernah bisa bersatu untuk membebaskan saudara-saudara mereka di Palestina.

Lebih jauh, pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga-lembaga internasional, ataupun organisasi regional. Semuanya justru ada untuk mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam. Amerika Serikat memberikan miliaran dolar bantuan militer kepada Israel setiap tahun. PBB hanya mengeluarkan resolusi tanpa mekanisme penegakan. Liga Arab sibuk dengan normalisasi hubungan dengan Zionis.

Sistem internasional tidak dirancang untuk membebaskan Palestina. Sistem ini dirancang untuk mengelola konflik, bukan menyelesaikannya. Dirancang untuk memberikan ilusi perdamaian, bukan keadilan sejati. Dan dirancang untuk memastikan hegemoni Barat tetap terjaga, sementara umat Islam terus terjajah.

Konstruksi Islam: Tanah yang Dijajah Harus Dibebaskan

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk pasrah dengan penjajahan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. Karena fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka perangilah mereka. Demikian itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Ayat ini menegaskan bahwa memerangi penjajah dan mengusir mereka dari tanah yang dirampas adalah kewajiban, bukan pilihan. Fitnah yaitu penindasan dan penghancuran agama, lebih kejam daripada pembunuhan. Artinya, membiarkan penjajahan terus berlanjut adalah dosa yang lebih besar daripada berperang untuk mengakhirinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mati dan tidak pernah berperang di jalan Allah, dan tidak pernah meniatkannya dalam hatinya, maka ia mati dalam kondisi cabang dari kemunafikan.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa berperang untuk membebaskan tanah Muslim dari penjajah bukan sekadar hak politik, melainkan kewajiban iman. Seseorang yang tidak memiliki keinginan untuk berjuang di jalan Allah, termasuk membebaskan tanah yang dijajah, berada dalam kondisi yang sangat berbahaya secara spiritual.

Solusi Islam: Hanya Kepemimpinan Islam yang Mampu Membebaskan

Pembebasan Palestina harus menjadi agenda yang inklusif dalam penegakkan sistem kepemimpinan Islam. Bukan lagi sekadar isu kemanusiaan yang ditangani oleh NGO-NGO Barat, bukan lagi sekadar masalah diplomatik yang diperdebatkan di koridor PBB, melainkan agenda strategis umat Islam untuk mengembalikan kehormatan dan kedaulatan tanah yang dijajah.

Hanya kepemimpinan Islam yang diharapkan bisa mengusir penjajahan dan mengalahkan kekuatan pendukungnya. Mengapa? Karena kepemimpinan Islam memiliki fondasi yang tidak dimiliki oleh sistem sekuler manapun.

Pertama, Persatuan Umat Islam. Kepemimpinan Islam akan menyatukan umat Islam yang saat ini terpecah menjadi negara-negara kecil dengan batas buatan penjajah. Nabi SAW bersabda: “Muslim itu bersaudara.” (HR. Bukhari-Muslim). Persaudaraan ini bukan sekadar slogan, melainkan ikatan politik dan militer yang nyata. Ketika satu bagian umat disakiti, seluruh umat merasakannya dan bergerak untuk membelanya.

Kedua, Kekuatan Militer yang Terintegrasi. Dalam sejarah, kekhalifahan Islam pernah memiliki kekuatan militer yang membuat musuh-musuhnya gentar. Pada masa Umar bin Khattab, pasukan Islam membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi Bizantium pada tahun 637 M. Khalifah Umar sendiri datang ke Yerusalem untuk menerima penyerahan kota suci tersebut, menandakan bahwa Palestina adalah tanah Muslim yang wajib dilindungi oleh kekuatan politik Islam.

Ketiga, Diplomasi yang Berpihak pada Keadilan. Kepemimpinan Islam tidak akan berdiplomasi dengan penjajah sebagai mitra setara. Diplomasi Islam berpihak pada keadilan mutlak, bukan kompromi yang mengorbankan hak umat. Sebagaimana Khalifah Umar menolak untuk berdoa di dalam Gereja Ketika Suci saat berkunjung ke Yerusalem, karena takut generasi Muslim berikutnya akan mengklaim gereja tersebut, demikian pula kepemimpinan Islam menolak untuk mengakui keberadaan entitas Zionis di tanah Muslim.

Keempat, Ekonomi yang Mandiri. Kepemimpinan Islam akan membangun ekonomi umat yang tidak bergantung pada Barat. Dana, sumber daya, dan teknologi akan dialokasikan untuk memperkuat pertahanan dan kesejahteraan umat, bukan untuk mengisi pundi-pundi bank-bank internasional. Ketika ekonomi umat kuat, embargo dan sanksi Barat tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan.

Bukti Historis: Ketika Islam Membebaskan Palestina

Sejarah telah mencatat bahwa Palestina pernah dibebaskan oleh kepemimpinan Islam. Pada tahun 637 M, pasukan Muslim di bawah komando Khalifah Umar bin Khattab berhasil mengalahkan Kekaisaran Bizantium dan membebaskan Yerusalem dari penjajahan. Khalifah Umar datang ke kota tersebut tanpa pasukan pengawal besar, menunjukkan kepercayaan dirinya pada keadilan Islam.

Ketika tiba, Umar menolak berdoa di dalam Gereja Makam Suci karena takut generasi Muslim berikutnya akan mengklaim gereja tersebut. Ia berdoa di luar, menunjukkan bahwa Islam menghormati tempat ibadah non-Muslim selama tidak ada penjajahan. Ini adalah bukti bahwa Islam bukan agama penindas, melainkan agama yang membawa keadilan dan perlindungan bagi semua warga negara.

Selama berabad-abad di bawah kekhalifahan Islam, Palestina menjadi tanah yang aman dan makmur. Umat Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai. Barulah ketika kekuatan Islam melemah dan sistem khilafah runtuh pada awal abad ke-20, penjajahan Barat masuk kembali, kali ini dalam bentuk Zionisme yang didukung oleh Imperium Inggris.

Kesimpulan: Agenda Utama Umat Islam Hari Ini

78 tahun Nakba bukan sekadar peringatan tragis. Ia adalah alarm yang terus berbunyi, mengingatkan umat Islam bahwa tanah suci mereka masih dijajah dan saudara-saudara mereka masih berdarah. BRICS, PBB, Liga Arab, dan lembaga internasional lainnya tidak akan pernah membebaskan Palestina. Mereka adalah bagian dari sistem yang mempertahankan status quo penjajahan.

Agenda utama perjuangan hari ini adalah memahamkan umat tentang urgensi hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam sebagai wujud keimanan. Bukan sekadar mendukung Palestina dengan hashtag, bukan sekadar berdonasi, melainkan memahami bahwa pembebasan Palestina adalah bagian dari pembebasan umat Islam secara keseluruhan dari sistem penjajahan yang telah merenggut kehormatan mereka selama berabad-abad.

Kepemimpinan Islam akan menyatukan dan memobilisir kekuatan umat Islam, sehingga kewibawaan umat ini kembali. Umat Islam akan siap merebut kepemimpinan dunia dan menebar rahmat ke seluruh alam, bukan dengan penjajahan seperti yang dilakukan Barat, melainkan dengan keadilan yang membawa kedamaian sejati.

Palestina akan bebas. Bukan karena resolusi PBB, bukan karena seruan BRICS, tetapi karena umat Islam telah kembali kepada sistemnya yang hakiki. Dan ketika itu terjadi, 78 tahun penjajahan akan menjadi catatan sejarah yang mengingatkan generasi mendatang: bahwa umat yang bersatu di bawah kepemimpinan Islam tidak pernah bisa dijajah selamanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

image_print

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.