TEHERAN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah muncul laporan bahwa parlemen Iran tengah membahas rancangan kebijakan kontroversial berupa pemberian hadiah fantastis bagi siapa pun yang berhasil membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Laporan tersebut pertama kali mencuat melalui media oposisi Iran, Iran Wire, pada 15 Mei 2026. Dalam laporannya disebutkan bahwa Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengumumkan adanya penyusunan rancangan bertajuk “Counter-Action by the Military and Security Forces of the Islamic Republic.” Rancangan itu disebut memuat usulan hadiah sebesar 50 juta euro atau setara lebih dari Rp1 triliun bagi pihak yang melakukan aksi pembunuhan terhadap Trump dan Netanyahu.
Pernyataan tersebut disebut sebagai respons keras Iran atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam eskalasi perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada awal 2026. Dalam sejumlah laporan internasional, Trump dan Netanyahu dituding oleh kelompok garis keras Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap petinggi Iran.
Media Iran Wire melaporkan bahwa kelompok peretas bernama “Handala” juga mengklaim telah menyiapkan dana besar untuk mendukung operasi yang mereka sebut sebagai “eliminasi arsitek utama penindasan,” yakni Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Kelompok itu bahkan menyatakan dana akan diberikan kepada individu maupun organisasi yang melakukan “aksi nyata.”
Sementara itu, NDTV dalam laporan tertanggal 19 Mei 2026 menyebut parlemen Iran dikabarkan akan membahas lebih lanjut rancangan tersebut untuk diformalkan menjadi kebijakan resmi negara. Nilai hadiah yang ditawarkan disebut mencapai sekitar 58 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp1 triliun.
Di tengah meningkatnya retorika ancaman, situasi kawasan Timur Tengah juga masih berada dalam kondisi genting. Reuters pada 21–22 Mei 2026 melaporkan bahwa pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung alot, terutama terkait tuntutan Washington agar Iran menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.
Iran menolak tuntutan tersebut dan menegaskan uranium tetap harus berada di dalam negeri mereka.
Diketahui, hubungan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat sendiri terus memburuk pasca perang terbuka yang pecah pada Februari 2026. Sejumlah laporan internasional menyebut konflik tersebut telah memicu serangan udara, blokade laut, hingga ancaman perang regional yang lebih luas.































































































Beri Komentar