UPDATE

Salam.life
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Banjir Bandang Pidie Jaya Diduga Dipicu Alih Fungsi Lahan, Warga Soroti Pembabatan Hutan

BANDA ACEH – Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pidie Jaya memunculkan kembali sorotan publik terhadap pengelolaan kawasan hulu yang dinilai semakin kritis. Dugaan alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit menjadi perhatian utama warga yang terdampak.

Sejumlah warga menyebutkan, pembabatan hutan di kawasan pegunungan dan alih fungsi lahan untuk sawit telah berlangsung beberapa tahun terakhir. Aktivitas tersebut diyakini melemahkan daya serap tanah dan membuat aliran air dari hulu melaju tanpa hambatan ketika hujan lebat mengguyur.

“Kayu-kayu gelondongan ikut hanyut. Itu tanda hutan di atas sana sudah rusak,” ujar seorang warga yang rumahnya diterjang banjir. Di lapangan, material berupa batang kayu dan potongan gelondongan berserakan di sepanjang aliran sungai, diduga hanyut dari kawasan hulu yang telah kehilangan tutupan vegetasi.

Perkebunan Sawit Terus Berkembang

Sektor kelapa sawit di Pidie Jaya memang menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir dan dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Kesehatan Hewan (Disbun-Keswan) Pidie Jaya tahun 2023, luas lahan perkebunan sawit mencapai 1.491,5 hektare.

Dari jumlah tersebut seluas 369,5 hektare sudah berproduksi, 1.111,5 hektare belum menghasilkan, dan 10,5 hektare tercatat sebagai lahan rusak.

Jika dirinci, pada tahun 2022 tercatat sebanyak 506 hektare perkebunan sawit milik kelompok, 416,46 hektare milik perusahaan (PT), dan 84,3 hektare milik koperasi.

Sementara itu, data mengenai luas lahan sawit yang dimiliki warga secara individu belum terverifikasi.

Meski sawit dianggap berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat, para pengamat menilai perlu ada tata kelola yang lebih ketat agar ekspansinya tidak memperburuk kondisi ekologi, terutama di daerah aliran sungai (DAS) yang sensitif terhadap perubahan tutupan lahan.

Bencana Hidrometeorologi Aceh

Peristiwa banjir bandang yang melanda Pidie Jaya ini semakin memperkuat tren meningkatnya bencana hidrometeorologi di Aceh, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga banjir rob. Hujan deras selama tiga hari berturut-turut menjadi pemicu utama, namun kondisi lingkungan yang rapuh membuat dampaknya berlipat ganda.

BMKG sebelumnya telah memperingatkan potensi hujan ekstrem akibat dinamika atmosfer di wilayah Sumatera. Masyarakat di daerah rawan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.

Pengamat lingkungan menekankan bahwa tanpa pengendalian alih fungsi hutan serta pengawasan ketat terhadap perluasan sawit dan aktivitas kapitalisasi lahan lainnya, Aceh akan terus berada dalam ancaman bencana serupa di masa mendatang.

Hingga kini, proses evakuasi, pembersihan material kayu dan lumpur, serta pendataan kerusakan masih dilakukan. Sementara itu, warga berharap bencana ini menjadi peringatan keras agar tata kelola lingkungan di Pidie Jaya dan wilayah Aceh lainnya dibenahi secara serius.[]

image_print

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.