KARO – Memperingati World Habitat Day dengan semangat “Adequate Housing for All”, PT Pegadaian Kanwil I Medan menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Green Sibayak Clean Up & Tree Planting for Sustainable Habitat di kawasan Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pegadaian tersebut diisi dengan aksi bersih lingkungan, penanaman pohon, serta edukasi mengenai pentingnya menjaga habitat dan kelestarian lingkungan hidup.
Sekitar 100 peserta terlibat dalam kegiatan ini, terdiri atas pelajar SMA Negeri 1 Berastagi, SMK Negeri 1 Kabanjahe, dan SMK Immanuel Kabanjahe. Kegiatan juga diikuti jajaran insan Pegadaian serta mitra kegiatan, yakni Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara, Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), dan Pramuka Kwarcab Karo.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil I Medan Yohanis Wulang, Tim Departemen Business Support Kanwil I Medan, Pemimpin Cabang Pegadaian Kabanjahe Suryadi Mandala, narasumber edukasi kelestarian lingkungan Nurhabli Ridwan, serta perwakilan panitia kegiatan dari Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara Teguh Persada.
Pada pembukaan kegiatan, Yohanis Wulang menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama, terutama dari generasi muda.
“Kegiatan ini menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian bersama terhadap lingkungan, khususnya di kawasan Gunung Sibayak. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi merupakan tugas kita bersama. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” ujar Yohanis.
Menurut Yohanis, kegiatan pelestarian lingkungan merupakan bagian dari komitmen yang terus dijalankan Pegadaian secara berkelanjutan.
“Kegiatan seperti ini terus kita jalankan. Hampir setiap tahun kami melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Kami ingin komitmen sosial dan lingkungan Pegadaian tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus memberikan manfaat dan dampak positif bagi lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan di kawasan pegunungan, tetapi juga berpotensi dikembangkan di wilayah lain.
“Ke depan, kegiatan serupa juga dapat dikembangkan di wilayah lain, termasuk kawasan pesisir melalui penanaman mangrove. Harapannya, kolaborasi seperti ini dapat terus diperluas untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” tambah Yohanis.
Kegiatan Green Sibayak juga sejalan dengan komitmen Pegadaian dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 15: Life on Land atau Ekosistem Daratan.
Melalui aksi pembersihan sampah dan penanaman pohon, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga, memulihkan, dan melestarikan ekosistem daratan. Keterlibatan pelajar dan komunitas lingkungan juga menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran serta kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Aksi bersih lingkungan menjadi salah satu rangkaian utama kegiatan. Para peserta bersama-sama membersihkan sampah yang ditemukan di sepanjang jalur puncak hingga pos 1 Gunung Sibayak.
Dari aksi tersebut berhasil dikumpulkan sebanyak 108 kilogram sampah yang kemudian dikemas ke dalam 12 kantong sampah (trash bag).
Setelah aksi bersih lingkungan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi edukasi bertema “Lingkungan Bersih, Bumi Sehat dan Masa Depan Hebat” yang menghadirkan Founder sekaligus Ketua Umum KPA GRAS, Nurhabli Ridwan, sebagai narasumber.

Nurhabli Ridwan merupakan Kader Konservasi Alam (KKA) binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Wisudawan Terbaik Pendidikan Green Leadership Indonesia Batch 1 Tahun 2021 Institut Hijau Indonesia, serta peraih Juara 1 Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026 Kategori Kader Konservasi Alam.
Dalam sesi edukasi, Nurhabli mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada pengetahuan mengenai lingkungan, tetapi berani mengambil peran melalui tindakan nyata.
“Konservasi tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Generasi muda dapat memulainya dari hal sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, menanam dan merawat pohon, serta ikut terlibat dalam kegiatan lingkungan,” ujar Nurhabli.
Ia memperkenalkan konsep ecobrick sebagai salah satu upaya pemanfaatan sampah plastik yang sulit didaur ulang. Sampah plastik tersebut dimasukkan secara padat ke dalam botol plastik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif material untuk berbagai kebutuhan.
Menurut Nurhabli, perubahan cara pandang terhadap sampah menjadi salah satu kunci dalam membangun budaya lingkungan yang lebih baik.
“Generasi muda harus melihat sampah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sesuatu yang masih dapat dikelola dan memiliki nilai apabila dilakukan dengan cara yang tepat,” jelasnya.
Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara bank sampah dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan Pegadaian, sehingga sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dikelola secara lebih produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ketika sampah dipilah dan dikelola dengan benar, kita tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Karena itu, bank sampah perlu diperkuat melalui kolaborasi agar masyarakat mendapatkan manfaat dari sampah yang mereka kelola,” katanya.
Selain pengelolaan sampah, Nurhabli menekankan pentingnya penanaman dan perawatan pohon sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan dan mitigasi perubahan iklim.
Pohon memiliki peran penting dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer, menjaga kualitas tanah dan air, membantu mencegah erosi, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna.
“Menanam pohon bukan hanya tentang menanam hari ini, tetapi tentang menyiapkan kehidupan yang lebih baik untuk masa depan. Ketika kita menjaga pohon dan habitatnya, kita juga sedang menjaga keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia,” jelas Nurhabli.
Menariknya, sesi edukasi berlangsung di tengah hujan. Meski kondisi cuaca kurang bersahabat, seluruh peserta tetap antusias mengikuti kegiatan hingga selesai dengan menggunakan jas hujan yang telah disediakan panitia.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar di lapangan. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dan konservasi, tetapi juga belajar mengenai pentingnya komitmen dan kepedulian terhadap lingkungan dalam berbagai kondisi.
Usai sesi edukasi, peserta melanjutkan kegiatan dengan aksi penanaman 300 batang pohon yang terdiri atas jenis pinus dan pucuk merah di kawasan Gunung Sibayak, dari sekitar Pos 2 hingga Pos 1.
Aksi tersebut menjadi bentuk nyata dari edukasi konservasi yang diberikan sekaligus simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Perwakilan panitia kegiatan sekaligus bagian dari Tim Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara, Teguh Persada, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pegadaian Kanwil I Medan atas dukungan penuh pada kegiatan ini, serta seluruh tim panitia, narasumber, dan peserta yang telah bersama-sama menyukseskan kegiatan ini. Kolaborasi dan semangat yang ditunjukkan seluruh pihak menjadi bagian penting dalam aksi peduli lingkungan ini,” ujar Teguh.
Teguh menilai keterlibatan pelajar, Pramuka, Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara, dan GRAS merupakan langkah positif dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kawasan alam dan habitat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Apa yang dilakukan hari ini dapat menjadi pengalaman yang kemudian dibawa pulang oleh para pelajar dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Kegiatan World Habitat Day di Gunung Sibayak diharapkan tidak hanya memberikan dampak langsung melalui pengumpulan 108 kilogram sampah dan penanaman 300 batang pohon, tetapi juga membangun kesadaran jangka panjang di kalangan generasi muda untuk menjadi bagian dari gerakan konservasi lingkungan.
Melalui kolaborasi antara dunia usaha, komunitas lingkungan, organisasi masyarakat, Pramuka, dan generasi muda, upaya menjaga kelestarian alam diharapkan dapat terus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Green Sibayak bukan sekadar aksi bersih dan tanam pohon, tetapi menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga habitat adalah tanggung jawab bersama demi menciptakan lingkungan yang sehat dan masa depan yang berkelanjutan.































































































Beri Komentar