BANDA ACEH – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman aksi militer terhadap Iran sambil mendesak Teheran segera menyepakati perjanjian terkait program nuklirnya.
Dalam unggahan panjang di platform Truth Social pada Rabu, Trump menyatakan bahwa AS telah mengerahkan kekuatan militer besar ke kawasan sekitar Iran.
“Armada besar sedang menuju Iran. Pergerakan ini cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar,” tulis Trump dikutip HARIANACEH.co.id dari Al Jazeera, Rabu (28/1/2026).
Ia menegaskan harapannya agar Iran segera duduk di meja perundingan untuk mencapai kesepakatan yang “adil dan seimbang”, seraya menekankan tuntutan utama Washington.
“Mudah-mudahan Iran segera datang ke meja perundingan dan menegosiasikan kesepakatan yang adil – TANPA SENJATA NUKLIR – yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya: BUAT KESEPAKATAN!” tulisnya.
Trump juga merujuk secara tersirat pada pengeboman AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Ia memperingatkan bahwa jika Iran menolak kesepakatan, serangan lanjutan akan jauh lebih besar dan lebih buruk.
Pernyataan Trump itu muncul tak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan kembali ke meja perundingan selama masih berada di bawah ancaman militer.
“Tidak ada kontak antara saya dan utusan AS Steve Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan tidak ada permintaan negosiasi dari pihak kami,” kata Araghchi kepada media pemerintah Iran.
Ia menegaskan sikap Iran bahwa negosiasi tidak dapat berjalan seiring dengan ancaman dan tuntutan sepihak.
“Sikap kami jelas: Negosiasi tidak sejalan dengan ancaman. Pembicaraan hanya mungkin dilakukan ketika ancaman dihentikan dan tuntutan berlebihan dikesampingkan,” ujarnya.
Sementara itu, koresponden Al Jazeera di Teheran, Ali Hashem, melaporkan bahwa di balik ancaman publik, upaya diplomatik terus berlangsung melalui para mediator internasional.
“Tampaknya banyak aktivitas diplomatik di balik layar. Para mediator berupaya maksimal mencari solusi karena situasi saat ini sangat serius,” katanya.
Hashem menambahkan, secara terbuka Iran menunjukkan kesiapan menghadapi perang, namun juga membuka peluang dialog selama tidak dilakukan di bawah tekanan militer.
“Pertunjukan Kekuatan” AS
Ketegangan meningkat setelah pemerintahan Trump memindahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan tersebut, memicu kekhawatiran akan konfrontasi militer terbuka.
Profesor hubungan internasional Universitas Qatar, Adnan Hayajneh, menilai langkah itu sebagai “pertunjukan kekuatan” Washington untuk menekan Iran.
































































































Beri Komentar