Ia pun mengingatkan Jokowi dan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju agar tak menyepelekan aksi unjuk rasa tersebut.
“Presiden Jokowi dan Menko Polhukam Mahfud MD jangan sepelekan gelombang aksi ginian. Terlebih rumput kering kian menyebar luas, jangan pernah remehkan percikan api yang mulai menyalakan revolusi,” terangnya.
Seperti diketahui, gelombang unjuk rasa terus terjadi di berbagai daerah di seluruh Tanah Air sejak Jokowi mengumumkan kenaikan harga BBM pada 4 September lalu.
Dalam kurun waktu 8 hari saja sudah terdapat 43 titik aksi unjuk rasa di seluruh Indonesia.
43 titik itu di antaranya, Aceh, Padang, Medan, Palembang, Bandung, Bogor, Cirebon, Kutai Timur, Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Ternate, Gorontalo, Palu, Riau, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Banten, Semarang, Solo, Yogyakarta, Lombok, Jombang, Lamongan, Makassar, Palopo dan Kendari.
Bisa disimpulkan sbg gerakan kemarahan kaum muda yg sangat revolusioner. Tdk sebatas protes kebijakan BBM namun delegitimasi atas kekuasaan presiden Jokowi. Klu tdk direspon scr bijak, bakal terjadi gelombang protes yg lebih besar & masif. SANGAT GAWAT!
#BBMNaikRakyatRevolusi pic.twitter.com/pDgXd10FKy
— Faizal Assegaf (@faizalassegaf) September 13, 2022










































































































