Karena lokasi yang cukup sempit, para pemuda ini saling dorong agar tak tertangkap anggota kepolisian. X pun mengaku jatuh hingga terguling di jalan agak menurun dan akhirnya tercebur di kali tersebut.
“Jadi, dia itu posisinya sudah naik ke atas ranai, karena ke dorong-dorong dia jatuh ke air (Kali)” ucap sang ibu yang mendampingi.
Setelah tercebur, X yang pandai berenang ini sempat ke tengah kali untuk menuju ke arah seberang. Namun apa daya, belasan orang lainnya yang dia lihat juga menceburkan diri ke kali ini terus menarik baju dan badannya lantaran diduga tidak bisa berenang.
Saat aksi saling tarik tersebut, X mengaku sempat tenggelam berkali-kali sampai harus meminum air kali berwarna coklat tersebut.
Karena lelah akibat aksi tersebut, akhirnya dia memutuskan kembali ke daratan dan memegang sebuah perahu ‘getek’.
“Kira-kira 5 menit ada dah kayaknya (berenang sambil ditarik orang lain). Ya balik ke darat karena enggak kuat soalnya. Abis itu ditolongin sama (Tim) Presisi,” jelasnya.
Hingga akhirnya, X dan sejumlah orang lain diamankan dan dibawa ke Polsek Bantar Gebang untuk menjalani pemeriksaan.
Beruntung, dia dibebaskan lantaran tidak terbukti hendak melakukan tawuran hingga tak memiliki senjata tajam.
Ibunda X menceritakan, dirinya dan suami sempat panik ketika mendengar adanya penemuan 7 mayat di Kali Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat pada Minggu (22/9/2024). Hal itu dia dengar dari seorang tukang ikan yang kerap berkeliling di sekitar rumahnya.
Paniknya ini sangat berdasar. Hal ini karena anaknya ini belum pulang ke rumah usai izin ingin bermain pada Jumat (20/9/2024).
Sebelum mendengar kabar ada penemuan mayat, ibu X sempat menghubungi sejumlah temannya untuk mencari tahu keberadaan X. Namun, hasilnya nihil.
“Pas ketemu hari Minggu (mayat), saya makin panik, terus ada tukang ikan lewat bilang ‘bu nggak mau liat mayat pada ngambang’. Di mana gitu kan posisi anak saya belum pulang soalnya, jadi panik,” tuturnya.
Namun, akhirnya dia mendapat kabar baik jika anaknya dalam keadaan selamat kala itu dan langsung menjemput anaknya di kantor polisi karena hany dikenakan wajib lapor.
Terindikasi Hendak Tawuran
Dari hasil penyelidikan, polisi menyebut kurang lebih 60 orang yang berkumpul di warung tersebut ternyata terindikasi hendak tawuran. Mereka yang tergabung dalam beberapa kelompok itu berkumpul terlebih dahulu untuk nantinya mencari lawan secara acak.
“Baru mau tawuran, janjiannya di sini, dan di sini basecamp-nya, dari kelompok-kelompok di antaranya dari Jatiasih, dari Mustikajaya, Bantargebang dari Rawalumbu itu sendiri,” kata Kapolsek Rawalumbu, Kompol Sukadi kepada wartawan.
































































































Beri Komentar