Masih kata dia, kekalahan RK di Pilkada Jakarta membawa dampak signifikan. Popularitas RK di tingkat nasional tidak dapat dimaksimalkan, dan harapan warga Jabar agar RK kembali memimpin mereka pun pupus, meninggalkan rasa kecewa mendalam.
Dengan demikian, kekalahan ini memerlukan evaluasi total terhadap strategi koalisi pendukung RK. Kekalahan RK di Jakarta menunjukkan bahwa politik bukan hanya soal popularitas, tetapi juga tentang kalkulasi strategi yang matang dan relevan dengan konteks lokal.
“Dalam konteks ini, jika RK memilih maju kembali di Pilgub Jabar, peluang kemenangannya hampir pasti, memungkinkan dirinya melanjutkan berbagai program keberhasilan yang telah ia bangun sebelumnya. Sayangnya, keputusan untuk bertarung di Jakarta justru mengorbankan momentum tersebut,” tutur Sugiyanto.
“Kekalahan RK ini memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak. Kini, pertanyaan pun muncul di masyarakat, siapa yang sebenarnya salah dan harus bertanggung jawab?” tambahnya menegaskan.
“Apakah ini merupakan kesalahan pribadi RK yang dianggap terlalu ambisius? Ataukah partai-partai pendukungnya yang lebih memprioritaskan agenda nasional dibandingkan stabilitas politik lokal? Atau mungkin karena terlalu percaya diri dengan dukungan 13 partai dalam Koalisi KIM Plus? Jawabannya tidak mudah diurai. Wallahu a’lam bishawab,” tandas Sugiyanto.
































































































Beri Komentar