Pendudukan Israel “terus menargetkan anak-anak melalui kejahatan sistematis, termasuk menggunakan mereka sebagai tameng manusia, merampas pendidikan mereka, dan berupaya memutuskan identitas nasional mereka di wilayah pendudukan tahun 1948 melalui manipulasi kurikulum, penyebaran kejahatan, dan penghancuran nilai-nilai.
Data yang diterbitkan dalam pernyataan bersama oleh Komisi Palestina untuk Urusan Tahanan, Masyarakat Tahanan Palestina, dan Asosiasi Dukungan Tahanan dan Hak Asasi Manusia Addameer mengatakan bahwa anak-anak yang ditahan mengalami penyiksaan, kelaparan, pengabaian media dan perampasan sistematis setiap hari.
Sementara itu, UNRWA mengatakan lebih dari 142.000 warga Palestina telah mengungsi antara 18 Maret dan 23 Maret, dan memperingatkan akan terjadinya bencana kemanusiaan lain di Gaza setelah runtuhnya gencatan senjata. Anak-anak Gaza hingga sebagian besar wanita, sejak perang dimulai, telah mengalami pengungsian paksa berulang kali di tengah pemboman, ketakutan dan kehilangan.
Sayangnya, bak suara menghilang di tengah badai, meski Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan November lalu untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Demikian juga Israel menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di Gaza tersebut tetap tak ada keputusan berarti. Nasib anak-anak Gaza tetap terkatung-katung dalam penderitaan.
Seruan Jihad dan Tegakkan Khilafah Selamatkan Anak Gaza
Kebiadaban Zionis tiada tara, puluhan ribu anak-anak menjadi korban genosida juga meninggalkan kepedihan berupa anak-anak yang menjadi yatim karena kehilangan orangtua. Semua fakta ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan tetek bengek aturan internasional dan perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak.
Nyatanya aturan-aturan tersebut tak mampu menghentikan apalagi mencegah penderitaan anak-anak Palestina. Semestinya , semua kepedihan ini menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dilahirkannya.
Sekelas PBB atau apapun itu hanya mampu sebatas menyampaikan laporan, sementara untuk tindakan nyata sebagaimana menjadi polisi dunia sebagaimana yang mereka gaungkan, mereka berubah menjadi macan ompong, bertekuk lutut di depan. Amerika sebagai salah satu anggota Dewan Keamanan PBB sekaligus pemegang kendali dunia dengan sistem Kapitalismenya.
































































































Komentar Terbaru