Padahal Rasulullah SAW menegaskan:
Daftar Isi
“Imam adalah pemelihara dan penanggungjawab (terhadap rakyatnya). Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penguasa dalam Islam adalah pelayan rakyat, bukan makelar kepentingan korporasi. Maka ketidakhadiran negara dalam mengatur pangan secara menyeluruh adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah yang Allah berikan.
Solusi Islam: Ketakwaan, Kontrol, dan Sistem Sanksi
Islam memiliki mekanisme sistemik untuk memastikan keadilan tegak dan kecurangan dicegah. Ada tiga elemen penting: ketakwaan individu, kontrol sosial masyarakat, dan penerapan sistem sanksi oleh negara. Ketiganya saling melengkapi.
Untuk urusan ekonomi dan tata niaga, Islam mengenal institusi Qadhi Hisbah, yaitu aparat yang memeriksa aktivitas pasar agar sesuai dengan syariat dan hukum yang berlaku. Qadhi Hisbah memastikan regulasi bukan hanya di atas kertas, tapi benar-benar dijalankan.
Di masa Khalifah Umar bin Khattab, Qadhi Hisbah aktif mengawasi pasar, menegur pedagang nakal, bahkan memberikan sanksi di tempat bila terjadi kecurangan. Ini menunjukkan betapa seriusnya Islam dalam menjaga kejujuran dan keseimbangan pasar.
Pengelolaan Pangan ala Islam
Islam tidak menyerahkan urusan pangan pada korporasi. Negara wajib hadir penuh mulai dari *produksi, distribusi, hingga konsumsi*. Pengelolaan ini bukan semata memastikan pasokan, tapi juga menjaga kualitas, harga, dan pemerataan distribusi agar seluruh rakyat mendapatkan akses pangan yang layak.
Hal ini sesuai dengan kaidah:
Penguasa bertanggung jawab atas urusan rakyatnya, dan Apa yang menjadi kebutuhan umum, tidak boleh dimiliki oleh individu atau swasta.
Negara yang menerapkan sistem Islam akan menolak dominasi korporasi dan memastikan kebijakan pangan berpihak pada rakyat. Kecurangan pun bisa dicegah karena ada kontrol yang kuat dan sistem yang berpihak pada kebenaran, bukan keuntungan.
Membangun Generasi yang Amanah
Persoalan kecurangan beras juga tidak lepas dari minimnya pembinaan karakter dalam sistem pendidikan kita. Ketika pendidikan hanya fokus pada angka dan prestasi akademik, aspek moral dan spiritual seringkali diabaikan. Padahal dalam Islam, amanah bukan sekadar konsep, tapi karakter mulia yang wajib dimiliki setiap individu. Rasulullah SAW bersabda:
Tidak beriman seseorang yang tidak amanah. (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Kalimat ini menunjukkan betapa pentingnya amanah sebagai indikator keimanan. Tanpa amanah, pelaku bisnis cenderung mencari celah untuk curang, apalagi jika sistem yang ada memungkinkan mereka untuk lolos dari hukum.































































































Beri Komentar