Itulah sebabnya, banyak tokoh Yahudi sendiri yang meyakini bahwa ketika bangsa Yahudi sudah berkumpul di satu tempat, punya kekuasaan, punya senjata dan tentara, dan punya ekonomi kuat – seperti keadaan mereka saat ini di negara Israil – itu justru menjadi pertanda akan hancurnya bangsa Yahudi. Sebab mereka akan menebar fasad di seluruh lapangan kehidupan dan hobi menumpahkan darah tanpa rasa bersalah sedikitpun. Mereka lalu akan dihukum oleh Allah dengan dua pilihan: Terusir atau terbunuh. Sementara azab akhirat juga sudah menanti – neraka.
Karena itu menjadi penting bagi para pejuang Gaza memahami sunnatullah ini. Jika mereka menuruti permintaan Perancis untuk melucuti senjata, artinya membiarkan Yahudi kembali kuat dan membiarkan diri sendiri lemah total. Tak ada jaminan bahwa setelah para pejuang Gaza melucuti senjata lalu mereka dibiarkan hidup normal. Bisa jadi akan ditangkap oleh Israil lalu dikurung tanpa batas waktu, dengan penyiksaan berat tidak akhir.
Walaupun sebaliknya, jika pejuang Gaza bersikukuh menolak melucuti senjata, mereka juga berada dalam kesulitan yang sangat berat akibat blokade berkepanjangan. Tapi setidaknya mati karena mempertahankan harga diri adalah kematian yang mulia.
Pada akhirnya siapa yang lebih sabar akan menang. Kita doakan semoga Allah berikan kesabaran tiada batas kepada para pejuang Gaza dan seluruh umat Islam di Palestina, dan Allah berikan keteguhan prinsip agar tidak goyah oleh tawaran diplomatik yang menjebak. Wallahul-musta’an.
والله أعلم بالصواب
































































































