Makar belum tentu berhenti di situ. Bisa jadi (baca; pasti) akan terus berlanjut. Negara-negara yang sebelumnya memberikan pengakuan, berbalik mencabut pengakuan terhadap Palestina, yang akan menjadi jalan bagi Israel untuk mencaplok habis Palestina. Mencabut pengakuan bukan perkara sulit, tinggal menggelar konferensi pers dan seluruh media memberitakannya.
Karena itu, jawaban elemen pejuang Gaza sudah tepat. Mereka menolak melucuti senjata, dan bertekad melawan hingga darah penghabisan, sampai Palestina merdeka. Kalimat Palestina merdeka bisa jadi maksudnya sampai seluruh tanah yang dahulu bagian dari Palestina (sebelum dijajah Israil) bisa direbut kembali dari Israil.
Munculnya pikiran Perancis untuk mengakui negara Palestina setelah dua tahun perang Gaza dan Israil gagal menundukkannya, mengandung pesan bahwa pengakuan itu buah dari perjuangan bersenjata, bukan hasil perundingan di meja yang dilakukan Mahmud Abas. Sungguh tidak masuk akal, senjata yang menjadi alat untuk melahirkan pengakuan justru diminta untuk dibuang, lalu hasilnya diberikan kepada pihak yang tidak berperan apa-apa yaitu si Mahmud Abas.
Penyelesaian Diplomatik Tanda Kelemahan
Ada hukum alam yang tak tertulis. Bahwa pihak yang merasa kuat jika ditantang oleh pihak yang lemah, pasti akan dengan pongah meladeni dengan kekuatan, tidak mau menyelesaikannya dengan perundingan. Dia merasa bisa dengan mudah menundukkan pihak lemah dengan kekuatan, sambil pamer kepada seluruh mata bahwa dia kuat tak bisa dikalahkan. Karenanya kadang dikombinasi dengan tindakan horor, untuk menciptakan teror psikologis kepada siapapun yang punya pikiran untuk melawan.
Tapi jika tenaganya terkuras karena waktunya berlarut tak juga berhasil menundukkan dengan senjata, pihak kuat akan mulai menurunkan ego. Dia mulai mau melakukan perundingan. Dia mulai membuat makar secara diplomatik. Dia akan merancang penyelesaian diplomatik agar tetap tampak menang meski sejatinya kalah.
Sejarah perjanjian Hudaibiyah menjadi contoh nyata berlakunya hukum alam ini. Kubu Makkah merupakan pihak kuat yang mendominasi jazirah Arab. Madinah datang untuk menantang. Makkah meladeni dengan perang Badar, Uhud dan puncaknya Khandaq. Pihak Makkah merasa kuat, bisa menyelesaikan tantangan Madinah yang dianggap lemah dengan senjata. Ternyata serial peperangan tak membuahkan hasil yang diinginkan. Makkah mulai frustasi. Cara yang tersisa tinggal jalur diplomatik.
Ketika Nabi Muhammad saw membawa rombongan untuk menunaikan umrah ke Makkah pada tahun 6 H, pihak Makkah menolak. Sebab jika membiarkan rombongan Madinah memasuki Makkah, akan dilihat oleh bangsa Arab sebagai simbol kekalahan. Tapi Makkah sudah tidak sanggup menghadang rombongan Madinah dengan kekuatan senjata. Karenanya mereka mengirim utusan untuk melakukan perundingan, yang misinya mencegah rombongan Madinah memasuki Makkah. Target sudah jauh menurun, tidak lagi penaklukan, tapi sekedar jangan masuk Makkah demi menjaga harga diri.


















































































































Komentar Terbaru