UPDATE

DUNIA
INTERNASIONALPALESTINA

Pengakuan Palestina Dalam Perspektif Ilmu Wala’

Kedua: Yahudi jika merasa kuat, tidak akan pernah mau hidup berdampingan dengan umat Islam. Yahudi hanya hidup normal (damai) jika umat Islam kuat berkuasa sementara mereka lemah jadi ahlu dzimmah.

Ketiga: Karena itu, Yahudi hanya mengenal dua pilihan: Diperangi / dieksekusi atau diusir. Sebagaimana tindakan Nabi saw terhadap komunitas Yahudi di sekitar Madinah.

Kesimpulan ini berdasarkan ayat berikut:

وَلَوۡلَآ أَن كَتَبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمُ ‌ٱلۡجَلَآءَ لَعَذَّبَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابُ ٱلنَّارِ ٣ – الحشر

Sekiranya tidak karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, Dia pasti mengazab mereka di dunia. Di akhirat mereka akan mendapat azab neraka. (Al-Hasyr/59:3)

Maksud ayat ini, bahwa kaum Yahudi hanya punya dua pilihan; terusir keluar dari tanah tempat tinggalnya atau diazab oleh Allah di dunia. Sedangkan di akhirat hanya punya satu pilihan, yaitu diazab dengan neraka.

Ayat ini menggambarkan nasib Yahudi sepanjang sejarah. Mereka selalu berada di antara dua pilihan: Terusir atau diazab. Kasus terdekat, mereka disiksa dan dibantai oleh Hitler di Jerman. Sisanya melarikan diri terusir, yang kemudian menjadi alasan menjarah tanah Palestina. Sementara pada zaman Nabi, suku-suku Yahudi di sekitar Madinah ada yang diusir (Bani Qainuqa dan Bani Nadhir), dan ada yang diazab dengan eksekusi mati (Bani Quraidhah).

Mengapa mereka hanya diberi dua pilihan itu oleh Allah? Sebabnya, pertama, karena mereka selalu menebar makar yang membuat semua bangsa kesal dan kedua, mereka tidak pernah mau meninggalkan agamanya untuk memeluk keyakinan masyarakat setempat. Mereka itu eksklusif, fanatik, dan tengil.

Berangkat dari sini, kita bisa ambil kesimpulan, bahwa menyelesaikan urusan Yahudi hanya bisa dengan menggunakan dua pilihan itu. Pertama, mengusirnya untuk selamanya. Kedua, mengazabnya, yang dalam kasus Gaza bisa dimaknai memeranginya hingga takluk. Jika mereka sudah takluk, mereka dipaksa untuk diam tak banyak tingkah karena mereka berada di bawah kendali kekuasaan Islam yang kuat seperti zaman khilafah dulu.

Dalam konteks Palestina, urusan Yahudi hanya akan selesai manakala yahudi diusir dari Palestina, terserah mau menyebar ke mana, atau ditaklukkan dengan peperangan. Tidak ada sejarahnya Yahudi bisa hidup damai dalam hubungan sejajar saling menghormati dengan bangsa lain. Yahudi itu hanya akan selesai jika dikalahkan total sehingga menjadi diaspora kecil-kecil yang hidup di dalam gheto dan kegiatannya hanya melestarikan ritual ibadah di sinagog-sinagog mereka, sama sekali tidak punya kekuatan baik ekonomi atau militar untuk membuat makar di muka bumi. Ketika mereka berkumpul dan memiliki kekuatan militer atau ekonomi, pasti mereka akan menebar kekacauan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4 5 6 7

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.