HAMAS menolak rencana relokasi penduduk Gaza. Mereka dengan tegas menyebutnya sebagai “gelombang genosida dan pengungsian baru” bagi ratusan ribu penduduk di kawasan itu.
Begitu juga dengan rencana pengerahan tenda dan peralatan perlindungan oleh Israel ke Gaza selatan merupakan “tipuan yang nyata” menjelang rencananya untuk merelokasi penduduk dari zona pertempuran ke selatan, meski menggunakan alasan untuk “memastikan keselamatan penduduk”.
Jelas rencana tersebut memicu kekhawatiran internasional atas nasib jalur yang telah dihancurkan dan telah menjadi rumah bagi sekitar 2,2 juta orang.
Israel semakin tak terkendali, Sekjen PBB Antonio Guterres mengutuk pembunuhan enam jurnalis Palestina dalam serangan udara Israel di Gaza City pada Minggu, 10 Agustus lalu. Stephane Dujarric, jubir Guterres mengatakan Sekjen PBB menyerukan penyelidikan yang independen dan imparsial terhadap pembunuhan-pembunuhan tersebut.
Kali ini Israel mengakui sengaja menargetkan pembunuhan satu jurnalis Anas Al Sharif dan menuduhnya sebagai “teroris” yang terafiliasi dengan Hamas. Pembunuhan terhadap jurnalis bukan yang pertama dilakukan Israel, total sudah 242 pekerja media selama 22 bulan agresi mereka di Jalur Gaza.
Dujarric menyebutkan bahwa Sekjen PBB, menggarisbawahi bahwa jurnalis dan pekerja media harus dihormati dan dilindungi serta diizinkan untuk menjalankan pekerjaannya tanpa intimidasi atau bahaya.
Penderitaan rakyat Gaza semakin memilukan, ada 1 juta perempuan dan anak perempuan mengalami kelaparan massal, kekerasan dan pelecehan, hal itu disampaikan UNRWA, salah satu badan PBB untuk pengungsi.
Akibatnya sangat membahayakan, kondisi kelaparan yang kian meluas, memaksa perempuan dan anak perempuan mengambil strategi bertahan hidup seperti keluar mencari makanan dan air, padahal sangat berisiko tinggi, lanjut UNRWA. Untuk itu UNRWA mendesak agar blokade Israel di Gaza dicabut, agar bantuan kemanusiaan bisa segera disalurkan.
108 organisasi nonpemerintah (non-governmental organization/NGO) mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa sejak 2 Maret, mayoritas NGO internasional besar tidak dapat mengirimkan satu truk bantuan akibat pembatasan Israel. Ada lebih dari 69 permohonan selama Juli yang ditolak Israel dengan alasan NGO tidak memiliki wewenang.
Antara 27 Mei hingga 13 Agustus, total 1.760 warga Palestina dilaporkan tewas saat mencari bantuan di Gaza. Menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan dari jumlah tersebut, 994 orang tewas di sekitar lokasi-lokasi militerisasi non-PBB, dan 766 lainnya tewas di sepanjang rute konvoi bantuan. Sungguh tak bisa lagi dianggap enteng, sebab nyawa tak berdosa jadi taruhannya, padahal ini rekayasa, yang mata dunia pun tahu. Masihkah kita diam?


































































































Komentar Terbaru