Raymond juga menyoroti ketimpangan ekstrem.
“Pada 2025, kekayaan orang-orang terkaya Indonesia meningkat hingga sekitar Rp700 triliu,” kata dia.
Di saat yang sama, tambah Raymond, puluhan juta warga kelas menengah dan bawah justru mengalami penggerusan tabungan.
“Bayangkan 100 juta orang kehilangan masing-masing beberapa juta rupiah dari tabungan mereka. Secara total mungkin kalah besar dibanding kenaikan kekayaan 50 orang terkaya. Tapi dampaknya ke hidup rakyat sangat brutal,” katanya.
Ia menegaskan, 10 persen populasi Indonesia menguasai hampir 80 persen kekayaan nasional.
Bahkan dalam konsumsi rumah tangga—penopang utama PDB—kelompok 20 persen teratas menyumbang hampir setengahnya.
“Sisanya, 80 persen rakyat, hanya membelanjakan uang untuk kebutuhan primer: beras, listrik, transportasi,” ujar dia.
Inflasi Resmi vs Inflasi yang Dirasakan
Kebohongan kedua yang digaungkan pemerintah, menurut Raymond, adalah soal inflasi.
Pemerintah, kata Raymond rutin melaporkan inflasi 2–3 persen melalui CPI (Consumer Price Index).
“Namun bagi rakyat, angka itu terasa jauh dari kenyataan,” ujarnya.
“Kalau kamu tinggal di Jakarta atau kota besar lain, kamu tahu inflasi rasanya jauh lebih tinggi,” tegas Raymond.
Masalahnya, kata dia, CPI dihitung dari ribuan jenis barang yang dirata-ratakan.
“Padahal masyarakat tidak membeli ribuan barang itu. Mereka menghabiskan 60–70 persen pengeluaran untuk lima pos utama: makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan kesehatan—semuanya mengalami kenaikan signifikan,” kata dia.
Kenaikan upah yang terlihat di atas kertas pun, kata Raymond, kembali berbasis rata-rata.
Indikator yang paling jujur justru real disposable income, yakni berapa sisa uang setelah semua kebutuhan dibayar.
Puncak kegelisahan Raymond muncul saat ia menelusuri data tabungan perbankan.
Raymond menyebut data ini sebagai indikator kesejahteraan paling konkret.
Faktanya kata dia sangat mengejutkan.
Dimana 99 persen rekening di Indonesia bersaldo di bawah Rp100 juta.
Lalu, rata-rata saldo kelompok ini turun drastis dibanding 10 tahun lalu.
Tahun 2025, kata Raymond mencatat saving rate terendah dalam sejarah
Raymond mengakui ada faktor perubahan perilaku, lebih banyak rekening, lebih banyak investasi.
Namun setelah memvalidasi data dari berbagai sumber dan jurnal, kesimpulannya tetap sama: kenaikan upah tidak mampu mengejar lonjakan biaya hidup.
“2025 adalah tahun di mana ‘bensin’ ekonomi rakyat habis. Tabungan sudah mulai terkuras,” katanya.
Akibat, kata Raymond, Fenomena “mantap” (makan tabungan) dan “rojali” (rombongan jarang beli) muncul dan bukan sekadar istilah viral, melainkan gejala struktural.































































































