Dalam perang pada Juni lalu, para ahli memperkirakan Iran memiliki antara beberapa ratus hingga hampir 2.000 rudal yang mampu menjangkau Israel.
Persediaan tersebut terpisah dari stok rudal jarak pendek yang tetap dapat menjangkau negara-negara Teluk.
Selain itu, penggunaan drone yang jauh lebih murah untuk diproduksi memberikan fleksibilitas tambahan bagi strategi militer Teheran.
Sumber keamanan Israel pada Sabtu (28/2/2026) menyebut produksi rudal balistik Iran telah “meningkat pesat”.
Meski demikian, Iran menghadapi kendala taktis.
Untuk meluncurkan rudal balistik, diperlukan kendaraan peluncur khusus, dan sebagian besar di antaranya dilaporkan hancur dalam konflik pada Juni.
Kondisi ini dapat membatasi kecepatan dan frekuensi peluncuran, meski tidak sepenuhnya menghilangkan ancaman.
Di tengah klaim intelijen Iran atas lokasi pertemuan Netanyahu, para analis menilai pernyataan tersebut lebih dari sekadar propaganda psikologis.
Dalam perang modern, penguasaan informasi dan persepsi publik menjadi bagian integral dari strategi militer.
Mengklaim mengetahui posisi pemimpin lawan bisa menjadi instrumen tekanan Politik sekaligus pesan bahwa ruang aman kian menyempit.
Namun, apakah ancaman itu akan berujung pada serangan langsung terhadap figur politik tertinggi Israel masih menjadi tanda tanya besar.
Setiap eskalasi yang menyasar pemimpin negara berpotensi memicu respons yang jauh lebih destruktif dan melibatkan kekuatan global secara terbuka.
Untuk saat ini, konflik bergerak dalam pola saling balas serangan, dengan risiko eskalasi yang terus membayangi.
Seperti duel dua pemanah yang digambarkan Benedict, pertanyaan mendasarnya bukan lagi siapa yang lebih cepat menembak, melainkan siapa yang mampu bertahan lebih lama di tengah tekanan sumber daya dan ketegangan geopolitik yang terus meningkat.




































































































Beri Komentar