Nasib Valerian setelah penangkapan tersebut melahirkan banyak legenda yang mengerikan, terutama dari sudut pandang penulis Kristen. Lactantius, seorang penulis Kristen kuno dan penasihat Constantine I, menggambarkan akhir hidup Valerian dengan penuh kebencian karena kebijakan sang kaisar yang pernah menganiaya umat Kristen.
Dalam catatannya, Lactantius mengeklaim bahwa Shapur I menggunakan punggung Valerian sebagai pijakan kaki (human footstool) setiap kali sang raja hendak menunggangi kudanya. Lebih jauh lagi, narasi ini menyebutkan bahwa setelah meninggal, kulit Valerian dikuliti, diwarnai merah, dan diawetkan di kuil sebagai piala kemenangan.
Namun, sejarawan modern cenderung skeptis terhadap cerita dramatis ini, mengingat para penulis Kristen saat itu memiliki kepentingan untuk menunjukkan bahwa musuh-musuh Tuhan akan menerima hukuman yang setimpal.
Diplomasi Batu dan Simbol Perlawanan Modern
Kontras dengan narasi tragis di Barat, bukti-bukti arkeologis di wilayah Persia menunjukkan sisi lain dari penangkapan sang kaisar. Di Naqsh-e Rostam, terdapat relief batu raksasa yang memperlihatkan Shapur I di atas kuda dengan sosok Kaisar Romawi yang berlutut di hadapannya.
Menariknya, analisis dalam artikel Ancient Origins menyebutkan bahwa dalam banyak ukiran, Valerian sering kali digambarkan masih mengenakan pakaian kebesarannya dan tidak dirantai. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa Shapur lebih memilih memanfaatkan keahlian para tawanan Romawi daripada sekadar menyiksa mereka secara brutal.
Bukti nyata dari pragmatisme Shapur dapat ditemukan di Shushtar, Iran, dalam bentuk Band-e Kaisar atau “Bendungan Kaisar”. Struktur ini merupakan pencapaian teknik sipil bergaya Romawi yang dibangun oleh Valerian dan ribuan tentaranya yang ditawan.
Artikel Greek Reporter mencatat bahwa keberadaan bendungan ini menunjukkan Shapur menghargai keahlian teknis tawanan Romawi untuk memperkuat infrastruktur kerajaannya.
Sementara itu di Roma, putra Valerian, Gallienus, terpaksa membuat keputusan pahit untuk tidak meluncurkan misi penyelamatan karena kondisi kekaisaran yang hancur, yang kemudian memicu munculnya negara-negara pecahan seperti Kekaisaran Gallia dan Palmyrene.
Meski terjadi lebih dari 1.700 tahun yang lalu, narasi kemenangan Shapur atas Valerian secara mengejutkan muncul kembali dalam konteks geopolitik modern.
Awal tahun ini, pemerintah Iran baru-baru ini meresmikan sebuah patung berjudul “Kneel Before Iran” di Alun-alun Enghelab, Teheran. Patung tersebut menggambarkan Shapur I di atas kuda dengan figur Valerian yang berlutut di depannya.





































































































Beri Komentar