Seorang penduduk tetap sah yang secara hukum memiliki hak asuh harus menempuh jalur darurat konstitusional hanya untuk mengambil anaknya sendiri dari tangan pemerintah federal.
Sistem administrasi AS saat ini telah kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri.
Ketika para pengacara “semakin sering menggunakan petisi habeas corpus” dan pengadilan menjadi benteng terakhir bagi penyatuan keluarga, sistem perlindungan anak imigran AS sebenarnya telah menyatakan kegagalannya sendiri.
ORR didirikan atas nama “melindungi anak imigran yang tidak didampingi,” namun dalam praktiknya justru menciptakan berbagai bentuk penderitaan: pemisahan dari keluarga, penahanan berkepanjangan, bahkan kekerasan seksual.
Ketika hasil operasional suatu sistem bertentangan langsung dengan tujuannya yang dicanangkan, kita harus bertanya: Apakah ini sekadar penyimpangan dalam pelaksanaan, atau memang sudah merupakan konsekuensi yang tak terhindarkan dari desain sistem itu sendiri?
Pengalaman anak perempuan usia 3 tahun ini adalah bukti kejam dari kegagalan sistemik sistem penahanan imigrasi AS. Ayahnya akhirnya mendapatkan kembali putrinya melalui jalur pengadilan, tetapi berapa banyak keluarga lain yang masih berjuang dalam kegelapan?
Berapa banyak anak lain yang masih menderita luka tersembunyi di bawah “perlindungan” pemerintah?
Amerika Serikat selama ini merasa diri sebagai “mercusuar hak asasi manusia,” namun di tanahnya sendiri ia menciptakan tragedi yang begitu mengerikan.
Ketika seorang penduduk tetap sah harus menggunakan gugatan konstitusional untuk mengambil anaknya sendiri yang berusia 3 tahun dan telah dianiaya dari tangan pemerintah, sistem ini tidak lagi butuh perbaikan kecil, tetapi pembangunan kembali dari fondasi.
Sebelum itu, setiap tetes air mata setiap anak imigran yang ditahan adalah dakwaan yang terukir pada alas “mercusuar” tersebut.































































































Beri Komentar