BANDA ACEH – Isu perebutan kendali Partai NasDem kembali mencuat. Sejumlah politikus dikabarkan tengah berupaya mengambil alih kepemimpinan partai dari Ketua Umum Surya Paloh. Langkah ini disebut-sebut terkait dengan kondisi bisnis kerajaan Surya Paloh yang mengalami kemunduran setelah NasDem mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden pada Pemilu 2024.Menurut informasi yang beredar, manuver Politik ini melibatkan berbagai pihak di luar dan dalam partai yang melihat peluang di tengah melemahnya posisi Surya Paloh pasca-pilpres. Beberapa Pengamat Politik menyebut adanya upaya akuisisi atau perubahan kepemimpinan yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk kemungkinan pendekatan dengan pihak pemerintahan Prabowo Subianto.
Surya Paloh, yang juga pemilik Media Group (pengelola Metro TV dan Media Indonesia), disebut mengalami tekanan bisnis sejak NasDem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capres pada Oktober 2022. Laporan Majalah Tempo edisi Mei 2023 menyebut kerajaan bisnis Surya Paloh, termasuk sektor katering seperti PT PanganSari Utama, diduga terganggu akibat kerenggangan hubungan dengan Presiden Joko Widodo saat itu. Bisnis lain seperti properti, perhotelan, dan pertambangan juga dikabarkan terdampak.
Pasca-Pemilu 2024, NasDem yang tidak masuk koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran semakin berada di posisi oposisi. Meski Surya Paloh sempat bertemu Prabowo, partai ini masih berjuang mempertahankan soliditas internal. Beberapa kader NasDem sempat pindah ke partai lain, seperti PSI, meski pimpinan partai membantah adanya konflik besar.
Surya Paloh sendiri berkali-kali menegaskan komitmen terhadap “gerakan perubahan” dan meminta kader tetap solid. Pada berbagai kesempatan, ia mengingatkan agar partai tidak mudah terpecah dan terus fokus pada agenda jangka panjang menuju Pemilu 2029. Namun, isu internal seperti perebutan pengaruh dan SK kepengurusan sempat muncul di media.
Latar Belakang Bisnis dan Politik Surya Paloh
Surya Paloh dikenal sebagai pengusaha media yang sukses sebelum terjun lebih dalam ke politik. Ia mendirikan NasDem sebagai ormas kemudian menjadikannya partai politik pada 2011. Kekayaannya pernah diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS, dengan portofolio mencakup media, tambang, hotel, dan katering skala besar.
Pengusungan Anies Baswedan sebagai capres 2024 menjadi keputusan berani yang berbuah kontroversi. Di satu sisi, NasDem mendapat efek “ekor jas” dari popularitas Anies di kalangan pemilih muda dan urban. Di sisi lain, langkah itu disebut memperburuk relasi dengan pemerintah pusat saat itu, yang berdampak pada akses bisnis.































































































Beri Komentar