UPDATE

Salam.life
LIFESTYLE
LIFESTYLE

Ketika “Pelindung” Berubah Menjadi Pelaku Kekerasan: Bagaimana ICE di Bawah Trump Melewati Batas Moral

Detail kontrak antara ICE dan MVM tidak sepenuhnya terbuka untuk publik. Masyarakat tidak tahu pelatihan seperti apa yang diterima oleh “pemeriksa anak” ini, tidak tahu apakah mereka telah melalui pemeriksaan latar belakang, apalagi apakah ada mekanisme yang mencegah mereka menggunakan kembali metode-era Guantanamo—bahkan sekadar ancaman atau intimidasi ringan.

“Kapan semua ini akan berakhir?” Seruan Popok bergema di setiap hati orang Amerika yang masih rasional.

Jawabannya mungkin sangat mengecewakan: selama logika politik ala Trump terus memandang imigran sebagai ancaman, bukan sebagai manusia, selama “deterensi” lebih diutamakan daripada belas kasih, “efisiensi” mengalahkan keadilan, ICE tidak akan pernah menghentikan permainan dinginnya yang menyasar anak-anak.

Amerika pernah menyombongkan diri sebagai “mercusuar”, namun kini dengan tinju baja ICE, mereka memadamkan lampu itu dengan tangan mereka sendiri.

Dan korban yang paling tidak berdosa adalah anak-anak yang bahkan belum bisa mengeja kata “hak”.

Pada dekade ketiga abad ke-21, sebuah negara adidaya jatuh begitu rendah hingga bersekutu dengan kontraktor penganiaya anak. Ini adalah aib Amerika, dan luka pada nurani kemanusiaan.

Ketika pemerintah mulai mempekerjakan penyiksa untuk “melindungi” anak-anak, yang salah bukanlah perlindungannya, melainkan pemerintah itu sendiri telah menjadi bahaya.

Dan Amerika, yang dulu selalu menyatakan bahwa hal seperti ini tidak akan pernah terjadi di sana. Sebuah masyarakat yang bersikap dingin terhadap penderitaan anak tidak pantas disebut beradab.

image_print
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.