”Pada saat penanganan di rumah sakit, yang bersangkutan meninggal dunia,” ucap Budi.
Istri Korban Sempat Kehilangan Suami Sebelum Dikabari Telah Meninggal Dunia
Istri almarhum, Sudarsih, 57, menuturkan bahwa pada Kamis sore ia masih menemani suaminya berjualan cermin hingga pukul 16.30 WIB. Melihat pergerakan massa yang kian membludak, Sudarsih meminta suaminya untuk segera menutup tempat usaha mereka lebih awal dari jadwal biasanya.
“Tutupnya itu biasanya jam 18.00 WIB. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak dari sana, akhirnya saya bilang ke Bapak untuk tutup saja,” ujar Sudarsih saat dijumpai di kedalamannya.
Sekitar pukul 20.30 hingga 21.00 WIB, massa demonstrasi mulai terdorong mundur ke permukiman. Ketika situasi dinilai mulai mereda, Bambang memutuskan keluar dari rumah. Sudarsih mengaku tidak melarang suaminya pergi karena hal tersebut sudah biasa terjadi jika ada keramaian di sekitar wilayah mereka.
“Dia itu biasanya cuma nonton. Kadang-kadang membantu mengucurkan air buat cuci muka orang-orang. Makanya saya biarkan saja,” ungkap Sudarsih.
Namun, kekhawatiran mulai muncul ketika korban tidak kunjung pulang hingga larut malam. Sekitar pukul 01.30 WIB dini hari, Sudarsih dibantu anaknya berusaha mencari keberadaan Bambang ke tetangga dan Ketua RT setempat, tetapi nihil.
Titik terang keberadaan korban baru terungkap sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Pihak keluarga tidak melihat secara langsung peristiwa penganiayaan maupun evakuasi jasad korban dari lokasi kejadian.
Kepastian dialaminya aksi kekerasan tersebut justru diperoleh setelah sang anak mengenali wajah korban melalui sebuah rekaman video pengeroyokan yang beredar



































































































Komentar Terbaru