UPDATE

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

Oleh: Rosadi Jamani

   

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

NETIZEN kadang nyebelin, sekaligus ngangenin. Apalagi cerita api asmara, eh salah, asap karhutla. Sering curiga. Tapi, curiganya sering benar. Habis karhutla, terbitlah sawit, ternyata benar. 

Di tengah kabut asap yang membuat Pontianak dan Kubu Raya seperti film distopia murahan, aparat menemukan enam batang bibit sawit, 35 korek api, jerigen solar, Pertalite, minyak tanah, 21 parang, dua kapak, satu cangkul, dua chainsaw, 13 plastik bekas polybag, 39 batang kayu bekas terbakar, dan sepasang sepatu bot.

Lengkap nian. Tinggal pasang spanduk, “Grand Opening Kebun Sawit — Tanah Baru Dibakar.”

Bareskrim Polri menetapkan 72 tersangka perorangan dari 89 laporan polisi di sembilan Polda. Sebagian besar petani ladang dan pekerja serabutan. 

Motif yang diungkap sederhana. Musim panas membuat lahan mudah terbakar, biaya pembukaan lahan turun drastis, lalu ketika hujan datang, lahan siap ditanami sawit.

Urutannya sungguh efisien: kemarau, bakar, bersihkan, hujan, tanam.

Api bekerja gratis. Tidak minta gaji, THR, apalagi uang lembur.

Yang paling bikin merinding bukan cuma ketika hutan terbakar. Tapi ketika api sudah padam, asap mulai hilang, gambut belum dingin, lalu bibit sawit sudah nongol. Sawit kan bukan jamur. Tidak muncul karena kehujanan.

Ada membawa. Ada menanam. Ada sudah menyiapkan lahannya.

Polisi juga menelusuri siapa memberi perintah, membiayai, dan menikmati keuntungan dari pembakaran. 

Kalau hanya pelaku lapangan ditangkap, cerita berhenti di ujung korek api. Kalau aktornya ditemukan, barulah kita tahu siapa sebenarnya menunggu tanah berubah dari hijau menjadi hitam.

Di Kalbar, luas lahan terbakar Januari–Agustus 2026 mencapai 38.310,86 hektare. Ketapang menyumbang 12.443 hektare, Kubu Raya 8.614 hektare, dan Mempawah 6.144 hektare.

WALHI mencatat periode 1 Januari-27 Juli 2026 terdapat 17.236 hotspot di Kalbar, dengan luas indikatif karhutla 28.680 hektare. 

WALHI juga menyebut sekitar 74 persen hotspot di Pulau Kalimantan berada di kawasan konsesi, termasuk 10.739 hotspot di konsesi perkebunan sawit. 

Data ini merupakan pemantauan WALHI dan tidak otomatis berarti seluruh hotspot disebabkan sawit.

Presiden Prabowo Subianto mendarat di Lanud Supadio pada 22 Agustus, memimpin rapat dan meninjau Desa Limbung, Kubu Raya. Dua hari kemudian Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyusul ke Rasau Jaya. 

Berdasarkan data Sipongi malam 23 Agustus, hotspot turun menjadi 28 titik. Ada 16 di Ketapang, 11 Melawi, satu Kubu Raya. Kemenhut mengerahkan 5.000 ASN, termasuk ratusan untuk Kalbar.

image_print

1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.