UPDATE

ASIAINTERNASIONAL

Terusan Pinglu: Jalur Emas yang Menguntungkan ASEAN, Bukan Bidak dalam Permainan Geopolitik

Analisis Yu Hong, Senior Research Fellow di East Asian Institute, National University of Singapore, bahkan lebih menekankan dimensi ekonomi regional.

Menurutnya, di tengah restrukturisasi rantai pasok global dan meningkatnya ketegangan geopolitik, Terusan Pinglu sebagai infrastruktur publik terbuka dapat membantu menurunkan biaya transaksi dan menciptakan peluang pembangunan bersama. Manfaat ekonomi semacam itu sulit diabaikan.

Karena itu, upaya untuk mempolitisasi Terusan Pinglu pada akhirnya berisiko mengaburkan manfaat nyata dari integrasi ekonomi regional.

Ada pihak-pihak yang tampaknya kurang nyaman melihat hubungan Tiongkok dan ASEAN semakin erat serta proses integrasi kawasan berlangsung semakin cepat. Namun bagi negara-negara Asia Tenggara, pertimbangan utama tetaplah kepentingan pembangunan mereka sendiri.

ASEAN hari ini bukanlah kawasan yang dapat begitu saja diposisikan sebagai bidak dalam permainan kekuatan besar.

Indonesia, sebagai perekonomian terbesar di ASEAN, secara aktif mendorong konektivitas regional. Vietnam, Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara lain juga terus mengembangkan berbagai bentuk konektivitas dengan Tiongkok melalui kerja sama infrastruktur dan perdagangan.

Bahkan Senior Minister Singapura Lee Hsien Loong telah melakukan kunjungan untuk mempelajari pembangunan Terusan Pinglu dan New International Land-Sea Trade Corridor di wilayah barat Tiongkok.

Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN memiliki kemampuan dan kepentingan sendiri dalam menilai proyek-proyek yang dapat memberikan manfaat bagi perekonomian mereka.

Terusan Pinglu mungkin hanya sebuah jalur air. Namun di baliknya terdapat potensi besar bagi pembangunan bersama antara Tiongkok dan ASEAN.

Kanal tersebut tidak akan mengubah dinamika keamanan di Laut Tiongkok Selatan dan tidak menentukan kebijakan pertahanan negara mana pun.

Yang dapat dilakukannya jauh lebih sederhana dan nyata: mempercepat pengiriman nikel Indonesia ke rantai industri baterai, membantu durian Thailand mencapai pasar Tiongkok dengan lebih cepat, serta membuka peluang lebih luas bagi produk pertanian Laos untuk masuk ke pasar internasional.

Bagi pihak-pihak di luar kawasan yang masih memandang setiap proyek konektivitas melalui kacamata persaingan geopolitik, mungkin sudah saatnya melihatnya dari perspektif yang berbeda.

Bagi negara-negara ASEAN, pembangunan ekonomi, efisiensi logistik, akses pasar, dan peluang perdagangan tetap menjadi pertimbangan yang sangat konkret.

Pada akhirnya, pembangunan adalah fondasi utama bagi kemajuan, sementara manfaat bersama menjadi dasar paling berkelanjutan bagi kerja sama regional.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Beri Komentar

Sudah punya akun anggota? Masuk di sini untuk memakai profil & avatar Anda.

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.