Betul sekali. Karena bekerja untuk program publik bukan cuma soal bisa menjalankan SOP. Harus tahu kapan bercanda, kapan diam, kapan menjelaskan, dan kapan menunjukkan empati.
Media sosial juga bukan tong sampah digital tempat semua pikiran dilempar begitu saja. Sekali unggah, publik bisa melihat. Sekali viral, jejaknya ke mana-mana. Sekali salah ngomong, klarifikasi bisa kalah cepat dengan screenshot.
Pelajaran dari kasus ini sebenarnya sederhana. MBG membutuhkan makanan bergizi, tetapi petugasnya juga harus punya akal sehat dan hati yang bergizi.
Jangan sampai makanan yang hendak diberikan kepada anak-anak sudah memenuhi standar gizi, tetapi perilaku orang melayaninya justru kekurangan empati.
Ironisnya kebangetan. Programnya bernama Makanan Bergizi Gratis. Jangan sampai yang gratis bukan cuma makanannya, tetapi juga etikanya. Kalau ada dugaan masalah keamanan pangan, periksa. Kalau ada korban, bantu.
Tetapi kalau penderitaan anak malah dijadikan bahan olok-olok? Ya jangan heran kalau kursi kerja akhirnya ikut “hilang 70 persen”. Bedanya, kali ini bukan ingatan hilang. Pegawainya benar-benar hilang dari daftar personel SPPG.
“Ada model pegawai macam itu. Boleh kita sebut pegawai goblok, Bang.”
“Duh, jangan ikutan ngatain goblok dong, wak!” Ups
(Mantan wartawan)
































































































Beri Komentar