NARASI dibuka dengan latar saluran pembuangan raksasa di bawah Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba). Ini adalah pilihan metafora yang brilian. Saluran pembuangan adalah tempat di mana semua residu—kotoran, limbah, dan rahasia—berkumpul.
Daftar Isi
- Sang Tikus Got: Intelektualitas di Balik Limbah
- Perbandingan “Tikus Got” vs “Tikus Berdasi”
- Babi Hutan: Saksi Bisu Perampasan Ruang Hidup
- Anjing: Pengkhianatan Kelas dan Elit yang Terjebak
- Mantra “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP)
- Ekonomi Hijau: Kamuflase Retorika
- Kematian Hati Nurani dalam Birokrasi
- Balas Dendam Alam: “Revisi Undang-Undang” Versi Bumi
- Penambahan Narasi: Perspektif Global dan Sejarah
- Residu Peradaban
Dalam beberapa tahun terakhir, Ditjen Minerba memang menjadi sorotan tajam media nasional. Investigasi Majalah Tempo seringkali mengungkap bagaimana izin usaha pertambangan (IUP) diproses di “ruang-ruang gelap” yang jauh dari jangkauan publik.
Bau “deterjen mahal dan parfum Oud” dalam narasi adalah simbol kontradiksi: kemewahan yang dibangun di atas limbah yang busuk.
Media internasional seperti Reuters sering menyoroti bagaimana Indonesia, sebagai eksportir batu bara terbesar dan pemain kunci nikel dunia, seringkali gagal dalam tata kelola internal.
“Aroma korupsi” yang digambarkan dalam khotbah ini sejalan dengan kasus-kasus hukum yang menjerat para petinggi di sektor pertambangan, di mana suap seringkali menjadi pelumas utama bagi keluarnya izin eksplorasi di kawasan hutan lindung.
Sang Tikus Got: Intelektualitas di Balik Limbah
Tikus Got digambarkan sebagai sosok yang cerdas karena memakan “sisa-sisa koran politik”. Ini melambangkan rakyat atau pengamat yang hidup di lapisan bawah namun memiliki literasi kritis terhadap perilaku elit.
Perbandingan “Tikus Got” vs “Tikus Berdasi”
Narasi ini memberikan distingsi moral yang kuat. Tikus got mencuri untuk bertahan hidup (survival), sementara “tikus berdasi” (pejabat korup) mencuri untuk koleksi jam tangan mewah.
Fenomena “tikus berdasi” ini seringkali muncul dalam tajuk rencana media seperti Media Indonesia atau The Jakarta Post.
Gaya hidup mewah (hedonisme) pejabat publik menjadi pemicu kemarahan sosial. Kasus pamer harta (flexing) keluarga pejabat yang viral di media sosial beberapa waktu lalu membuktikan kebenaran narasi ini.
Tikus got dalam cerita ini adalah suara nurani yang terpinggirkan, yang melihat bahwa parfum Oud yang mahal tidak bisa menutupi bau amis kebijakan yang merugikan rakyat.
Babi Hutan: Saksi Bisu Perampasan Ruang Hidup
Babi Hutan dengan bekas luka tembak adalah representasi dari masyarakat adat dan fauna yang terusir dari habitatnya. Ia adalah korban langsung dari konflik agraria yang seringkali melibatkan aparat keamanan sebagai “tameng” perusahaan tambang.
Tragedi Hilirisasi dan Ekosida
Babi Hutan menyebut istilah “Hilirisasi” sebagai kata intelektual untuk “pemerkosaan bumi”.
Hilirisasi nikel, misalnya, dipuji oleh pemerintah sebagai lompatan ekonomi. Namun, media seperti Mongabay dan BBC Indonesia melaporkan sisi gelapnya: kerusakan pesisir di Maluku Utara, polusi udara di Morowali, dan hilangnya hutan di Sulawesi.
- The Guardian pernah mengulas bagaimana ambisi baterai kendaraan listrik dunia (Green Economy) justru dibayar dengan kehancuran hutan hujan Indonesia.
- Babi Hutan yang menabrakkan diri ke alat berat adalah simbol perlawanan putus asa masyarakat lokal yang tidak lagi memiliki jalur hukum yang adil.
Anjing: Pengkhianatan Kelas dan Elit yang Terjebak
Anjing Golden Retriever yang melarikan diri melambangkan kelas menengah atau mereka yang sempat berada di lingkaran kekuasaan namun memilih untuk pergi karena muak.
Ia menceritakan bagaimana tuannya—sang “Pahlawan Pembangunan”—bernegosiasi tentang persentase suap di balik meja makan mewah.
Persentase dan “Stempel Negara”
“Berapa persen buat partai? Berapa persen buat aparat?” Kalimat ini mencerminkan fenomena State Capture Corruption, di mana kebijakan negara tidak lagi dibuat untuk kepentingan umum, melainkan untuk kepentingan kelompok (oligarki).
Laporan dari Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan bahwa sektor sumber daya alam adalah “sapi perah” utama untuk pendanaan politik, terutama menjelang Pemilu.
Narasi tentang “Tas Hermes masuk lemari istri” dan “Apartemen di Singapura” bukan sekadar bumbu cerita; itu adalah fakta hukum yang sering muncul dalam persidangan di Pengadilan Tipikor.
Media massa sering mencatat bagaimana aliran dana tambang ilegal mengalir ke kantong-kantong elit politik untuk mengamankan posisi kekuasaan.
Mantra “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP)
Tikus Got menyinggung istilah akuntansi “Wajar Tanpa Pengecualian” sebagai mantra sakti untuk melegalkan pencurian. Ini adalah kritik tajam terhadap formalisme hukum dan administratif di Indonesia.
Banyak instansi pemerintah atau pemerintah daerah mendapatkan predikat WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), namun tak lama kemudian pejabatnya ditangkap KPK.
Narasi ini menegaskan bahwa “administrasi yang rapi” seringkali hanyalah topeng untuk menyembunyikan kejahatan yang sistemik.
Media mainstream sering mempertanyakan kredibilitas opini WTP ini ketika korupsi tetap merajalela di lembaga yang bersangkutan.
Ekonomi Hijau: Kamuflase Retorika
“Hijau matamu! Hijau itu warna uang suap!” teriak si Tikus. Ini adalah kritik terhadap Greenwashing.
Di panggung internasional seperti COP (Conference of the Parties), para pemimpin dunia bicara soal transisi energi. Namun, di lapangan, seperti yang diulas oleh Project Syndicate atau The Economist, istilah “Ekonomi Hijau” seringkali digunakan hanya sebagai jargon pemasaran untuk menarik investasi, sementara praktik di lapangan tetaplah ekstraktif dan destruktif.
Narasi ini secara berani menyebut bahwa “Hijau itu warna lumut di atas nisan para petani”. Ini merujuk pada para aktivis lingkungan yang dikriminalisasi atau bahkan tewas dalam memperjuangkan tanah mereka, sebuah realitas yang sering diberitakan oleh Amnesty International.
Kematian Hati Nurani dalam Birokrasi
Dalam khotbah ini, Tikus menyatakan bahwa di dalam gedung tersebut, “hati nurani adalah barang ilegal.” Ini adalah observasi tentang sosiologi birokrasi yang predatoris.
Karier vs Integritas
Untuk naik jabatan, seseorang harus menjadi bagian dari sistem. Orang yang jujur akan terlempar (seperti si Anjing yang kabur atau si Babi yang ditembak).
- Media mainstream sering meliput fenomena Whistleblower yang justru berakhir di penjara atau dipecat, sementara para pelaku utama tetap melenggang kangkung.
- Mentalitas “menandatangani izin yang menenggelamkan desa” adalah bentuk banalitas kejahatan—di mana kejahatan dilakukan sebagai bagian dari tugas rutin administratif.
Balas Dendam Alam: “Revisi Undang-Undang” Versi Bumi
Bagian penutup narasi memberikan peringatan apokaliptik. Ketika Mahkamah Konstitusi atau lembaga hukum lainnya dianggap bisa “dibeli” atau “diatur”, maka alamlah yang akan bertindak sebagai hakim tertinggi.
Banjir bandang, tanah longsor di kawasan tambang, dan krisis iklim adalah bentuk “revisi” alam.
-
Media seperti Kompas sering menurunkan laporan khusus tentang bagaimana pembukaan lahan masif untuk tambang di Kalimantan telah mengubah pola banjir yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
- Secara global, narasi ini sejalan dengan teori Gaia atau hak-hak alam (Rights of Nature), di mana bumi dianggap sebagai organisme hidup yang akan bereaksi terhadap eksploitasi yang melampaui batas.
Penambahan Narasi: Perspektif Global dan Sejarah
Untuk memperdalam ulasan ini, kita perlu melihat bahwa apa yang dialami oleh ketiga “jelata” ini bukan hanya fenomena lokal Indonesia, melainkan bagian dari “Resource Curse” (Kutukan Sumber Daya Alam) yang dialami banyak negara berkembang.
Media internasional sering membandingkan Indonesia dengan negara-negara di Afrika atau Amerika Latin. Di mana ada emas, nikel, atau minyak, di sana seringkali ada darah dan korupsi.
Khotbah Tiga Jelata ini adalah suara dari “Global South” yang merasa bahwa kemajuan teknologi di belahan bumi utara (seperti mobil listrik Tesla atau kemewahan di Eropa) dibangun di atas penderitaan makhluk-makhluk di saluran pembuangan Ditjen Minerba.
Residu Peradaban
“Kita adalah pengingat akan kegagalan mereka menjadi manusia.” Kalimat penutup dari si Tikus Got ini adalah inti dari seluruh narasi. Pembangunan yang hanya mengejar angka pertumbuhan (PDB) tanpa memperhatikan etika dan ekologi adalah pembangunan yang cacat.
Khotbah Tiga Jelata yang ditulis Syarifudin Brutu di media Potret Online yang menjadi acuan pengulasan Harian Aceh Indonesia adalah sebuah manifesto perlawanan simbolik.
Melalui ketiga hewan ini, kita diingatkan bahwa kemewahan yang kita nikmati di kota-kota besar seringkali memiliki jejak karbon dan jejak penderitaan yang berakhir di saluran pembuangan.
Selama korupsi masih dianggap sebagai “oksigen” dalam birokrasi, maka kehancuran ekosistem bukan lagi kemungkinan, melainkan kepastian.
Narasi ini mengajak pembaca—dan para pengambil kebijakan—untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara-suara dari bawah got, sebelum alam melakukan “ketok palu” terakhirnya yang tidak bisa diganggu gugat oleh kekuasaan manapun.
Referensi:
- Potret Online: “Khotbah Tiga Jelata“
- Korupsi IUP Investigasi Tempo: “Bagi-Bagi Izin Tambang” Tikus Berdasi & Persentase Partai
- Konflik Agraria Laporan KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria) Luka tembak pada Babi Hutan
- Greenwashing The Guardian: “The Dirty Side of Clean Energy” Kritik si Tikus soal “Ekonomi Hijau”
- Gaya Hidup Elit Viralitas di media sosial & berita TribunNews “Tas Hermes dan jam tangan mewah”
- Bencana Ekologis Laporan BNPB & analisis WALHI Banjir bandang sebagai “Revisi Alam”

































































































