BANDA ACEH – Rocky Gerung menuai kritik aktivis usai masuk Istana sebagai Wantimpres. Langkahnya memicu sorotan soal konsistensi sikap kritisnya terhadap kekuasaan.
Rocky Gerung kembali menjadi sorotan setelah keputusannya bergabung dengan lingkungan Istana memicu kritik dari sejumlah aktivis.
Sosok yang selama ini dikenal vokal mengkritik pemerintah itu kini mengemban jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Namun, Rocky punya jawaban menohok untuk mereka yang meragukan langkahnya.
Alih-alih mundur menghadapi kritik, Rocky justru meminta para pengkritiknya menunggu hingga sepuluh tahun mendatang.
Ia bahkan memprediksi mereka akan mengubah pandangan dan meminta maaf atas penilaian terhadap dirinya saat ini.
“Tunggu aja 10 tahun lagi mereka minta maaf ke gue,” ujar Rocky dalam podcast Akbar Faizal Uncensored.
Pernyataan tersebut muncul di tengah perdebatan mengenai keputusan Rocky menerima posisi di lingkungan pemerintahan.
Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai figur yang kerap melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan maupun perilaku para pemegang kekuasaan.
Karena itu, kehadirannya di lingkaran Istana memunculkan pertanyaan tentang konsistensi sikapnya.
Sejumlah pihak mempertanyakan apakah Rocky masih bisa mempertahankan kebebasan berpikir dan menyampaikan kritik setelah berada lebih dekat dengan pusat pemerintahan.
Namun, Rocky menegaskan bahwa menerima jabatan tidak berarti dirinya harus mengubah prinsip.
Ia merasa tetap memiliki kebebasan untuk menyampaikan pandangan, termasuk ketika pendapatnya berseberangan dengan pihak yang sedang berkuasa.
Bagi Rocky, kedekatan dengan kekuasaan bukan alasan untuk berhenti bersuara.
Ia menolak anggapan bahwa posisi di lingkungan Istana otomatis membuat seseorang kehilangan independensi dalam berpikir.
Ia juga menegaskan tetap akan mengkritik Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurut pandangannya, kekuasaan harus tetap mendapatkan pengawasan.
Tanpa kontrol yang memadai, kekuasaan berisiko disalahgunakan dan membuka ruang bagi praktik korupsi.
Dalam penjelasannya, Rocky bahkan menyebut Istana sebagai “sarang korupsi” ketika menguraikan pandangannya tentang bahaya kekuasaan yang tidak terkontrol.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Rocky ingin mempertahankan posisi kritisnya meski kini berada di lingkungan pemerintahan.
Ia seolah menegaskan bahwa jabatan yang diterimanya tidak serta-merta menghapus kebebasan untuk mengoreksi penguasa.
Meski begitu, konsistensi sikap tersebut tentu akan menjadi perhatian publik.































































































Beri Komentar