Beberapa waktu setelah puluhan mahasiswa diculik, banyak media yang memberitakan telah ditemukannya kuburan massal yang terdapat jenazah para mahasiswa tersebut.
Media-media seperti CNN, Guardian, BBC, Time, dan Washington Post ikut memberitakannya. Belakangan, ketika sudah dilakukan tes DNA ternyata jenazah-jenazah tersebut tidak sesuai dengan kelompok mahasiswa yang dimaksud.
Ironisnya, banyak media yang keliru memberitakan tersebut tidak menulis berita lanjutan. Washington Post misalnya, di awal kejadian menulis tiga berita terkait penemuan kuburan tersebut, namun hanya menuliskan satu berita untuk meralatnya. Time dan CNN bahkan tidak memberikan ralat sama sekali.
Dari temuan tersebut dan juga pada isu-isu lain, Craig Silverman menjelaskan setidaknya ada 2 catatan tentang bagaimana media merespon berita-berita hoax atau palsu.
Pertama, dengan melakukan update atau follow up. Update berarti media meralat kesalahan langsung di berita pertama, sementara follow up berarti membuat berita baru dan tetap membiarkan berita lama yang keliru.
Kedua, media cenderung untuk memperbaiki berita yang segera diketahui kesalahannya dalam waktu 24 jam setelah dipublikasikan. Sementara media yang rata-rata baru sadar bahwa ada kesalahan dalam pemberitaannya, cenderung tidak meralat atau memperbaiki berita tersebut.
Craig Silverman juga menyebut bahwa fenomena ini bukan hal yang mengejutkan. Ia dikendalikan oleh model bisnis media digital, teknik optimasi mesin pencari, serta berbagai faktor yang membuat media harus menampilkan berita yang punya kecenderungan viral tinggi di media sosial.
Kondisi psikologis jurnalis dalam situasi semacam ini dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai media satire atau kelompok-kelompok yang memfabrikasi sebuah isu.
Menariknya, beberapa media sadar dengan kecenderungan yang negatif terhadap dunia jurnalisme ini dan mulai memikirkan strategi untuk memperbaikinya. Salah satunya dengan memberikan ruang khusus bagi para pemeriksa fakta.
Di Swedia misalnya, media Metro memiliki rubrik khusus bernama Viralgranskaren yang dikelola oleh tiga wartawannya. Tugas mereka adalah membongkar dan memeriksa fakta berbagai berita yang menjadi viral di media-media di Swedia.
“Washington Post juga memiliki kolom khusus bernama “What was fake on the internet this week” untuk melihat berita-berita palsu yang kadung populer di media sosial,” begitu Wisnu Prasetya Utomo menutup tulisan yang mencerahkan ini.
Nah, dari tulisan Wisnu tadi, ada persoalan yang sesungguhnya menjadi renungan bagi seorang jurnalis. Intinya, ada beberapa kategori yang wajib menjadi perhatian utama yaitu, akurasi, validasi, konfirmasi, cek dan ricek; kesalahan penulisan pada data; sumber berita yang relevan; akurasi judul dengan isi; serta akurasi antara foto dengan isi.































































































Beri Komentar