UPDATE

OPINI
OPINI

Bunda GenRe, Mimpi Kartini Masa Kini?

Program ini pun mendapat dukungan dari Kanada, Uni Eropa, Italia, Belanda, dan Inggris. Untuk Indonesia, “Amanah” itu diampu BKKBN dengan Program GenRenya (ayah,bunda dan kakak GenRe).

Salah Pembacaan Masalah Akar Berakibat Salah Menetapkan Solusi

Undang Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, kependudukan , mendefinisikan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sebagai rangkaian usaha untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan mengembangkan kualitas penduduk pada seluruh dimensi penduduk.

Artinya Indonesia dengan jumlah penduduknya yang besar berikut bonus demografinya, mengharuskan pemerintah membekali sumber daya manusia yang ada, guna mendorong pembangunan nasional yang lebih baik serta menjadikan jumlah penduduknya yang besar menjadi modal utama pembangunan nasional sebagaimana amat undang-undang.

Masalah bonus demografi tak hanya menyangkut banyaknya usia produktif saja, tapi juga usia remajanya. Mereka bisa menjadi asset bangsa sekaligus batu sandungan bagi tercapainya Indonesia emas, maka butuh pembinaan dengan baik. Ditambah lagi arus informasi yang tidak terkendali akan juga berdampak positif dan negatif bagi remaja.

Kedua hal tersebut apabila tidak dikendalikan dan dibina oleh pemerintah akan melahirkan remaja-remaja Indonesia yang berperilaku hidup tidak sehat dan tidak berakhlak. Dan permasalahan kependudukan tidak hanya berbicara tentang kuantitas, tetapi juga kualitas manusianya. Kualitas manusia Indonesia 10-20 tahun ke depan akan dipengaruhi dari kualitas remaja saat ini.

Sayang pembacaan pemerintah hanya di permukaan, bahkan cenderung relate dengan kebijakan global. Seolah apa yang dialami banyak negara di dunia penyelesaiannya juga sama. Nyatanya, hingga hari ini belum ada data yang secara signifikan menunjukkan kesuksesan program global dan yang diterjemahlan Indonesia sebagai program GenRe.

Pendekatan Program GenRe melalui antar remaja (Pusat Informasi Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) maupun pendekatan kepada keluarga dengan adanya keluarga GenRe (Ayah, Bunda, Kakak), belum bisa secara signifikan mengatasi” tiga dosa besar remaja” (seks bebas, pernikahan dini, dan penyalahgunaan napza).

Kalau sudah begini dimana mimpi Kartini? Karena para Ibu akhirnya sibuk pada sesuatu yang tidak ada arahan sesuai syariat, bukankah salah satu misi DP3AKB adalah mewujudkan masyarakat yang religius, setara, tentram dan nyaman?

Seharusnya pemerintah pusat dan daerah melakukan evaluasi. Sejauh mana efektivitas dan keberhasilan program GenRe tanpa memperhatikan dimana penyebab mendasar problematik remaja. Dan dunia Global yang dianut hanyalah kepanjangan tangan negara Kapitalis Global.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4 5 6
Story Terbaru
Tidak dapat memuat data story terbaru.
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.