Khususnya masa sekolah di Orchid Park Secondary School, lalu ke pindah ke UTS Insearch Australia, dan kembali lagi ke Singapura menempuh studi di MDIS.
“Nah, kalau kita lihat rekam pendidikan dari Gibran ini, itu kan yang kalau kita merujuk ke informasi yang ada di KPU, itu kan dia menyelesaikan SD di Solo. Lalu, 2 tahun SMP di Solo,” tutur Fikar.
“Asumsi saya, dia menyelesaikan kelas 7 dan 8, setelah itu dia transfer ke Orchid Park Secondary School Singapura. Jadi, kalau memang dia transfer, berarti dia menyelesaikan kelas 9 dan 10 di Orchid Park, dan ujungnya itu, dia mestinya mengambil ujian O Level,” imbuhnya.
“Nah, setelah itu ya kita tahu, dia mencoba masuk ke UTS lewat Insearch itu kan, tapi kemudian dia kembali ke Singapura dan kuliah di MDIS,” kata Fikar.
Ia menilai, kemungkinan Gibran justru tidak mengikuti tes A Level.
Dengan artian, menurut Fikar, jika memakai standar pendidikan di Singapura, Gibran tidak lulus pendidikan setara SMA yang seharusnya tidak memenuhi syarat untuk lanjut kuliah ke universitas.
Sehingga, akan terkesan janggal jika Gibran bisa melanjutkan studi ke MDIS.
Meski begitu, Sulfikar Amir tetap berpandangan diplomatis; bisa jadi ada syarat tertentu yang dipenuhi Gibran untuk masuk MDIS.
“Nah, jadi kalau kita lihat rekam pendidikan Gibran, kalau pakai standar Singapura, dia enggak menyelesaikan A Level, artinya tidak setara dengan SMA,” ujar Fikar.
“Nah, saya enggak tahu ceritanya bagaimana, dia bisa masuk kuliah di MDIS. Mungkin ada syarat-syarat tertentu yang dia penuhi,” sambungnya.
“Tetapi kalau [untuk] masuk ke NTU atau university di Singapura, itu enggak mungkin. Tidak mungkin, karena dia tidak menyelesaikan level yang setara SMA itu,” paparnya.
















































































































