BANDA ACEH – Miliarder Uni Emirat Arab (UEA) Khalaf Al Habtoor telah menulis surat terbuka kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mempertanyakan wewenangnya untuk menyeret negara-negara Teluk dan Timur Tengah ke dalam konflik militer yang sedang berlangsung dengan Iran.
Pendiri Al Habtoor Group ini mengajukan pertanyaan dalam surat terbuka tersebut, yang ditulis dalam bahasa Arab dan dibagikan di platform media sosial X pada hari Kamis, menanyakan kepada Trump apakah itu sepenuhnya keputusannya untuk berperang atau apakah dia dipengaruhi oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.
Seperti diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran sejak Sabtu (28/2/2026), menargetkan kepemimpinan dan infrastruktur militernya.
Setelah serangan AS-Israel, Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap UEA dan negara-negara Teluk lainnya dengan klaim menargetkan pangkalan militer Amerika.
UEA dan negara-negara tetangganya telah menyerukan kepada semua pihak untuk mengakhiri konflik dan terlibat dalam pembicaraan damai.
“Anda telah menempatkan Dewan Kerja Sama Teluk dan negara-negara Arab di tengah bahaya yang tidak mereka pilih. Syukurlah, kami kuat dan mampu membela diri. Kami memiliki tentara dan pertahanan yang melindungi tanah air kami,” tulis miliarder tersebut dalam surat terbukanya.
“Namun pertanyaannya tetap: Siapa yang memberi Anda izin untuk mengubah wilayah kami menjadi medan perang?” lanjut Al Habtoor.
Dia mengatakan keputusan AS untuk berperang dengan Iran mengancam rakyat di wilayah Timur Tengah dan rakyat Amerika, yang kepada rakyat Amerika Trump menjanjikan perdamaian dan kemakmuran.
“Dan di sinilah mereka hari ini, mendapati diri mereka berada dalam perang yang didanai dari uang dan pajak mereka, dengan biaya yang berkisar, menurut Institute for Policy Studies (IPS), antara 40-65 miliar dolar untuk operasi militer langsung, dan dapat mencapai 210 miliar dolar termasuk dampak ekonomi dan kerugian tidak langsung jika berlangsung empat hingga lima minggu, belum lagi pengorbanan warga Amerika sendiri dalam perang di mana mereka tidak memiliki unta jantan maupun betina,” paparnya.
Al Habtoor Group telah vokal dalam berbagi pandangannya tentang isu-isu lokal, regional, dan global. Ia juga mendanai sebuah lembaga think tank untuk menyoroti dan memberikan solusi untuk isu-isu terkini.
Al Habtoor mengatakan Presiden AS telah melanggar janjinya untuk tidak terlibat dalam perang.
“Anda memerintahkan intervensi militer asing selama masa jabatan kedua Anda di tujuh negara: Somalia, Irak, Yaman, Nigeria, Suriah, Iran, dan Venezuela, selain operasi Angkatan Laut di Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur. Anda mengarahkan lebih dari 658 serangan udara asing pada tahun pertama masa jabatan Anda, yang sama dengan total serangan selama seluruh masa jabatan (mantan Presiden AS Joe) Biden, yang karenanya Anda mengarahkan kritik Anda karena melibatkan Amerika Serikat dalam perang asing,” imbuh Al Habtoor.


















































































































Komentar Terbaru